WAWANCARA

Suhardi: Orang NII Nggak Bernyali Bergabung dengan Kami

Kamis, 05 Mei 2011, 06:44 WIB
Suhardi: Orang NII Nggak Bernyali Bergabung dengan Kami
Suhardi
RMOL. Setelah dikabarkan orang-orang NII menyusup ke partai politik, jajaran Partai Gerindra langsung melakukan pengecekan ke seluruh pengurus di daerah.

“Hasilnya tidak ada yang me­laporkan adanya penyusupan itu. Artinya, tidak ada orang NII ber­gabung ke Gerindra,’’ ujar Ketua Umum Partai Gerindra, Suhardi, ke­pada Rakyat Merdeka, di Ja­karta, kemarin.

Menurutnya, dengan ideologi partai yang kuat berdasarkan Pan­casila tentu mampu menangkal pengaruh paham NII.

“Kalau orang NII bergabung ke partai ini, mereka pasti nggak be­tah, sehingga keluar dengan sen­di­rinya. Sebab,  visi-misi mereka ti­dak bisa mengubah ideologi par­tai yang sudah ada,” bebernya.

Suhardi mengungkapkan, Ge­rindra memiliki pemahaman bah­wa Indonesia terdiri dari berbagai suku dan agama, sehingga paham ke­bangsaan dengan NKRI dan Pancasila merupakan hal mutlak demi mempertahankan keutuhan bangsa.

“Pendirian partai ini bukan un­tuk membentuk negara Islam. Orang NII nggak bakal tertarik be­r­gabung dengan kami,’’ ucapnya.   

Berikut kutipan selengkapnya:

Kenapa Anda begitu yakin ti­dak ada kader NII yang menyu­sup ke Gerindra?
 Yakin dong. Kalau pahamnya tidak sesuai dengan Gerindra,  pasti mereka terdepak dari partai ini. Dalam anggaran dasar partai su­dah jelas dicantumkan soal pa­ham kebangsaan berdasarkan Pan­casila. Kami melakukan peng­kaderan dan konsolidasi in­ternal soal paham ini.

Melihat itu, tidak ada orang yang masuk ke Gerindra dengan paham NII. Mereka nggak punya nyali. Sebab, sebelum masuk, me­reka harus mengikuti ang­gar­an dasar kita bahwa Gerindra ada­lah partai yang berdasarkan Pancasila.

Namanya menyusup tentu orang itu tidak mengaku dari NII?
Sudah kami cek, nggak ada orang NII bergabung ke Gerin­dra. Sejauh ini, saya tidak terima la­poran tentang adanya penyusup ke Gerindra.

Bagaimana Gerindra menang­kal paham itu?
Lewat kaderisasi dengan melakukan pendidikan politik. Ka­mi punya penataran untuk ting­kat kecamatan yang disebut pra­tama. Ada lagi pelatihan kader muda pada tingkat kabupaten. Ke­mudian ada lagi kader madya di tingkat provinsi. Sedangkan kader utama di tingkat nasional.

Di dalam penjenjangan dan pelatihan kader, ada indoktrinasi untuk visi dan misi. Selain itu, me­yakinkan kader tentang perlu­nya negara Pancasila dan bukan ber­dasarkan agama. Itu memang ada dalam proses kaderisasi.

Yakin proses itu bisa menjamin Gerindra bersih dari paham NII?
Ya dong. Kami akan terus melakukan evaluasi terhadap pro­ses kaderisasi dan pelatihan. Kami ada proses testing evaluasi.

Di dalam kederisasi itu kan kita beri keyakinan  untuk memegang visi-misi partai agar mereka tidak berubah haluan. Jadi, kalau me­reka merasa tidak cocok, tentu ke­­luar dengan sendirinya. Sebab, jelas sekali tujuan Partai Gerindra dan action programnya adalah nasionalisme. Itu logikanya, bila ada kader kami yang berpaham NII, mereka akan keluar karena tidak cocok.

Kalau diadakan gerakan ber­satu untuk menjaga keutuhan bangsa, apa Gerindra siap?
Tentu siap dong. Kami akan berdiri paling depan untuk men­jaga keutuhan bangsa ini. Sebab, ter­sirat jelas dalam anggaran da­sar dan anggaran rumah tangga, visi dan misi serta program aksi kita, bahwa kami menjaga ke­dau­latan bangsa di bawah naungan Pancasila.

Menurut Anda bagaimana me­nangkal NII ?
Sebetulnya kalau negara ini mam­pu membuat sejahtera dan mak­mur rakyatnya, tentu tidak ada kejadian yang aneh-aneh. Ke­mudian dilakukan penegakan hu­kum secara benar.   [RM]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA