Powerfull, SBY Tak Pantas Ngaku Merasa Ditekan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Sabtu, 12 Maret 2011, 14:46 WIB
<i>Powerfull,</i> SBY Tak Pantas Ngaku Merasa Ditekan
siti zuhro/ist
RMOL. Dalam sistem presidensial yang dianut Indonesia saat ini, presiden adalah seorang yang powerfull untuk menentukan apakah akan merombak Kabinet Indonesia Bersatu II atau tidak.

Karena itu tidak logis, bila Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku ada yang menekannya untuk melakukan hak prerogatifnya tersebut.

"Beliaukan (SBY) Presiden. Kita menggunakan sisitem presidensial. Kita sepakat memperkuat sistem itu. Jadi tidak perlu lah. Nggak relevan (dia mengatakan ada yang menekan). Orang yang powerfull kok merasa ditekan.Kecuali pengamat, wartawan mungkin ditekan-tekan. Jadi jangan kebalik-baliklah," ujar pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Siti Zuhro kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Sabtu, 12/3).

Mestki begitu, dia juga mengakui bahwa SBY memang perlu membangun komunikasi dengan publik untuk menentukan sikapnya. Tapi, komunikasi itu bukan komunikasi yang meresahkan. Makanya, lanjutnya, harusnya SBY menunjukkan kepemimpinannya dengan cara langsung mengeksekusi setelah ada komunikasi dengan publik. [zul]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA