Karena itu tidak logis, bila Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku ada yang menekannya untuk melakukan hak prerogatifnya tersebut.
"Beliaukan (SBY) Presiden. Kita menggunakan sisitem presidensial. Kita sepakat memperkuat sistem itu. Jadi tidak perlu lah. Nggak relevan (dia mengatakan ada yang menekan). Orang yang
powerfull kok merasa ditekan.Kecuali pengamat, wartawan mungkin ditekan-tekan. Jadi jangan kebalik-baliklah," ujar pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Siti Zuhro kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Sabtu, 12/3).
Mestki begitu, dia juga mengakui bahwa SBY memang perlu membangun komunikasi dengan publik untuk menentukan sikapnya. Tapi, komunikasi itu bukan komunikasi yang meresahkan. Makanya, lanjutnya, harusnya SBY menunjukkan kepemimpinannya dengan cara langsung mengeksekusi setelah ada komunikasi dengan publik.
[zul]
BERITA TERKAIT: