Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

Batok Kepala Gayus Diukur Tim Forensik

Mirip Pria Yang Nonton Tenis Di Bali

Minggu, 14 November 2010, 01:03 WIB
Batok Kepala Gayus Diukur Tim Forensik
Gayus Tambunan/ist
RMOL.Penyidik khusus bentukan Mabes Polri yang ditugaskan meneliti akurasi foto mirip Gayus Tambunan mulai menarik kesimpulan sementara. Isinya, foto jepretan wartawan di Bali identik dengan wajah asli Gayus. Pengumpulan bukti terkait keberadaan Gayus di Bali ini juga dilakukan polisi dengan menurunkan tim gabungan Mabes Polri, Polda Metro dan Polda Bali.

Identifikasi atas foto mirip Gayus Tambunan yang tengah me­nyaksikan pertandingan tenis di Nusa Dua, Bali digeber ke­polisian. Hingga Jumat (12/11) pe­tang, tim forensik kepolisian yang meneliti lekak-lekuk wajah Ga­yus menarik kesimpulan se­mentara kalau struktur wajah Ga­yus identik dengan gambar dalam foto hasil jepretan wartawan Kom­pas, Agus Susanto.

Proses identifikasi foto wajah mirip Gayus ini dikemukakan salah satu anggota tim forensik Mabes Polri. Kepada Rakyat Merdeka, pria berpangkat dua melati di pundaknya itu me­nye­but­kan, proses pencocokan wajah da­lam foto dengan wajah asli Ga­yus dilakukan timnya selama ku­rang lebih dua hari. “Sudah kita mulai sejak dibentuk tim khusus pada Rabu sore lalu. Jumat ini selesai dan hasilnya baru akan dilaporkan kepada Kabareskrim,” ujarnya.

Ia menyebutkan, klasifikasi atas bentuk dan ukuran wajah mirip Gayus ditempuh timnya de­ngan mengambil sampel bentuk wajah asli Gayus di Rutan Mako Brimob. “Pengukuran detil wa­jah­nya dilakukan bersamaan de­ngan pemeriksaan dia,” jelasnya. Lebih jauh, proses analisa wajah mirip Gayus dilakukan tim fo­ren­sik kepolisian melalui pe­ngu­kur­an lebar bagian batok kepala, dahi, bentuk alis, bentuk bibir, mata, hidung hingga dagu Gayus.

Sumber menolak merinci teknis pengambilan sampel ukur­an wajah Gayus ini secara ter­pe­rinci. Menurutnya, trik yang dilakukan jajarannya tidak bisa disampaikan lantaran me­nyang­kut teknis penyelidikan. Ia me­mastikan, jajaran forensik secara umum melakukan penyusuran me­nggunakan metode manual. “Dalam penyelidikan melalui pendekatan manual, kita menarik kesimpulan kalau wajah dalam foto itu identik dengan wajah asli Gayus,” terangnya.

Sementara penyelidikan lain yang dilaksanakan jajaran Sat-Cybercrime ditempuh melalui teknologi digital alias modern. “Pencocokan wajah juga di­la­ku­kan dengan pendekatan melalui kom­puter. Penyelidikan secara garis besar dilaksanakan melalui teknik analisa digital,” terang anggota tim Sat-cyber-Crime Baresrim Mabes Polri yang ogah di­se­but­kan na­manya. Ia merinci, pen­ye­lidik­an da­lam upaya men­co­cok­an wa­jah Gayus yang me­man­­faat­kan tek­nologi digital, dila­k­sa­na­kan dengan pendekatan re­ka­yasa gam­bar.

Secara singkat katanya, proses penyelidikan lewat rekayasa gambar dilakukan dengan cara memberikan berbagai atribut di wajah Gayus. “Dilengkapi ram­but gondrong,  kacamata, kumis, sampai berambut gundul,” akunya. Namun berbeda dengan hasil analisa yang dilakukan oleh tim forensik yang menyebut gam­bar dalam foto identik dengan wajah asli Gayus. Hasil pe­nye­li­di­kan jajaran Sat Cyber-Crime sam­­­pai Jumat malam masih di­ra­ha­siakan. “Kesimpulan tim nanti akan diserahkan dulu ke Ka­bares­krim,” katanya.

Ketika dikonfirmasi seputar info identiknya foto sosok Gayus Tambunan yang tertangkap ka­mera dengan wajah asli Gayus, Karo-Penmas Mabes Polri Brig­jen I Ketut Untung Yoga Anna me­ngaku belum tahu. Ia me­n­je­las­kan, pihaknya belum me­ne­rima tembusan atas hasil pe­nye­lidikan yang dilakukan tim fo­rensik dan cyber crime ke­po­lisian.

“Masih diteliti oleh tim ke­polisian,” katanya. Guna me­mas­tikan apakah foto hasil jepretan war­tawan tersebut identik dengan wa­jah asli Gayus, bekas Kapolres Metro Tangerang ini juga me­mas­tikan, kepolisian terlebih dahulu akan memintai bantuan ahli dan memintai tanggapan saksi ahli terkait hal ini. “Untuk foto  polisi perlu bekerja dengan me­nan­ya­kan kepada ahlinya. Kalau sudah ada hasilnya secara jelas, akan kami sampaikan.”  

Kadiv-Telematika Mabes Polri Irjen Yudi S pun memilih tidak banyak komentar menanggapi pro­ses penyelidikan yang di­la­ku­kan jajaran forensik dan cy­ber­crime kepolisian. Dia bilang,  pen­yelidikan atas foto mirip Gayus ini masih diselidiki. “Belum selesai. Nanti, nanti,” kelitnya.

Sementara pengamat te­le­ma­tika Roy Suryo mengklasifikasi, kea­slian foto tidak bisa diragukan lagi. Lalu, telaah dia, foto mirip G­ayus itu juga identik dengan wajah Gayus. “Mirip,” katanya seraya menambahkan,  kalau dianalisa secara detail, foto ter­sebut asli, alias tidak me­ngan­dung unsur rekayasa digital.

Mengorek Keterangan Sopir Gayus

Teka-teki seputar kebenaran Gayus Tambunan sempat berada di Bali menjadi PR besar ke­po­lisi­an. Polisi juga bakal mengorek ke­terangan saksi-saksi, seperti so­pir Gayus serta wartawan foto yang menjepret wajah orang mirip Gayus itu.

Kadivhumas Mabes Polri Irjen Iskandar Hasan belum berani memastikan bahwa foto mirip Gayus otentik atau identik de­ngan Gayus. Alasannya, jika be­nar Gayus pergi ke Bali, maka dia membutuhkan waktu be­be­rapa hari meninggalkan tahanan. “Ka­lau foto belum bisa dijadikan se­bagai barang bukti utama,” ujarnya.

Diperlukan penyelidikan yang tingkat akurasinya mutlak bisa dipertanggung­jawabkan. Menurut dia, perkara Gayus pernah atau sering meninggalkan selnya sudah terjawab melalui penindakan terhadap sembilan personil kepolisian yang menjaga Rutan Mako Brimob.

“Ia diberi izin ke luar. Ini tidak sesuai prosedur,” jelasnya. Apa­lagi, sambungnya, setelah diusut-usut ternyata petugas kepolisian diduga menerima aliran dana suap dari Gayus.     

Lebih jauh terkait dengan penelusuran keaslian foto dan jejak Gayus di Bali, Karo-Pen­mas Mabes Polri Brigjen I Ketut Untung Yoga Anna men­jelas­kan,  kepolisan akan segera me­manggil sopir pribadi Gayus dan juru foto yag menjepret wajah orang mirip Gayus di Bali.

Sambung Ketut, pemanggilan setiap saksi akan diatur sesuai prosedur pemeriksaan yang berlaku di Mabes Polri. Namun, ia mengaku belum tahu kapan agenda pemeriksaan tersebut. “Kalau manggil itu ada prosedur­nya, sekarang dipanggil dalam tenggang waktu 3x24 jam itu harus dimaklumi. Itu ber­da­sar­kan aturan undang-undang,” je­las­nya seraya menambahkan, ke de­pan­n­ya penyidik akan men­cer­mati setiap perkembangan di la­pan­g­an.

Diharapkannya, melalui pe­ne­lusuran intensif jajarannya, ke­polisian bakal mendapatkan ke­te­rangan tidak hanya terkait de­ngan foto mirip Gayus saja. Di­harap­kan, siapa saja pihak lain yang terlibat akan ketahuan.  “Kita sudah bentuk tim yang akan menyelidiki hal ini,” tandasnya.

Sebagaimana diketahui se­be­lum­nya, Gayus disebut-sebut sem­pat meninggalkan selnya di Rutan Mako Brimob Jumat 5 November untuk berobat. Tapi, dia diduga tidak hanya berobat. Dia disebutkan kepolisian juga sem­pat pulang alias mampir ke ru­mah­nya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Berharap Penyelidikan Akurat Dan Cepat

Supriyadi, Pengamat Telematika

Penyelidikan atas oten­ti­fi­kasi gambar atau foto mem­butuhkan keakurasian yang sangat kompleks. Sedikit saja me­leset, hasilnya akan ter­dis­torsi alias tidak akurat.

Selain bu­tuh kecermatan dan kejelian dalam meneliti obyek foto yang terekam lensa, di­per­lu­kan juga waktu ekstra saat me­nilai dan mem­ban­ding­kan ke­as­lian foto dengan obyek asli­nya.

Keterangan mengenai lan­g­kah penyelidikan dan pe­n­coco­kan gambar foto Gayus ini di­sam­paikan pengamat te­le­ma­tika Supiyadi. Menurutnya,  pen­­yelidikan mengenai hal ini secara garis besar biasa di­la­ku­kan lewat metode manual mau­pun digital.

“Tingkat ketepatan dan akurasinya bisa diukur me­lalui metode digital,” ujarnya. Na­mun demikian, penggunaan tek­nik lama seperti analisa forensik diyakininya juga mam­p­u memberikan hasil optimal.

Menurut dia, baik cara ma­nual maupun digital biasanya di­lakukan kepolisian guna men­cari dan menggali bukti se­banyak-banyaknya. Dalam pe­ne­litian menggunakan me­tode digital, sambungnya, me­mun­g­kin­kan penyidik ke­polisian melakukan berbagai lang­kah dalam meneliti obyek yang dijadikan target pe­n­ye­li­di­kan.

Berbagai metode atau cara-cara itu antara lain bisa di­lak­sa­nakan menggunakan teknik ma­nipulasi digital. Untuk men­dapatkan hasil maksimal dalam men­cocokan gambar atau foto obyek yang diteliti, penyidik umumnya melakukan uji coba seperti menambah aksesoris pada obyek foto.

Dari situ, imbuhnya, nantinya analisa dan pengamatan intensif yang dilandasi bukti-bukti dan temuan hasil penyelidikan yang menggunakan metode manual akan dicocokan. “Dari situ pen­yidik mengambil ke­sim­pulan apa­kah gambar itu otenik de­ngan orang yang asli atau ti­dak,” terangnya seraya ber­ha­rap,  penyingkapan kasus foto mi­rip Gayus bisa dilakukan ke­po­lisian dengan cepat.  

Bekas Kadiv-Telematika Polri ini mengingatkan, upaya me­mbukikan keberadaan Ga­yus yang sempat nglencer ke Bali harus didukung dengan hasil kerja unsur kesatuan lain se­perti reskrim yang me­nguna­kan teknik penyelidikan dan pen­yidikan melalui proses pe­mang­gil­an saksi-saksi.

Ini Peristiwa Yang Memalukan

Eva Kusuma Sundari, Anggota Komisi III DPR

Foto pria mirip Gayus Tam­bunan nonton tenis di Bali mem­buat Polri kalang kabut. Tam­paran bagi Kapolri Timur Pra­dopo ini hendaknya cepat dituntaskan agar kredibilitas kepolisian di masyarakat tidak makin hancur-lebur. Fungsi pengawasan dari atasan ke bawahan pun menjadi sorotan.

“Ini presden yang amat me­malukan. Gayus yang sudah ter­libat perkara mafia pajak dan di­tahan masih bisa bebas dan me­laku­kan tindak pidana pen­yua­pan pada aparat. Ini tragis,” ujar ang­gota Komisi III DPR Eva Kusuma S.

Dia bahkan memberikan penilaian, polah maupun tindak tanduk Gayus yang menyedot perhatian khalayak belakangan ini, membuat upaya penegakan hukum oleh kepolisian sampai pada titik nadir.

Diuraikan, masih bisa be­bas­nya Gayus mempermainkan apa­r­at penegak hukum ini, di­duga dilatari masih adanya gem­bong mafia yang berada di be­lakang Gayus. Untuk itu, ia me­minta Kapolri Jenderal Timur Pradopo menyingkap misteri kasus ini sampai tuntas. “Ungkap semua yang terlibat dan tuntaskan sampai ke akar-akanya,” tegasnya.

Ia pun mencermati, dalam per­kara Gayus ini selalu saja pi­hak yang menjadi teman atau kon­co Gayus melakukan aksi ke­jahatannya adalah aparat tingkat bawah. Atas indikasi ini, ia menilai, sikap petingi, khusus­nya kepolisian masih sangat lemah dalam mengawasi ker­ja anak buahnya.

Jangan-jangan, duganya, pe­tinggi-petinggi kepolisian se­karang ini lebih memilih me­ne­rima laporan saja ketim­bang me­ngecek kebenaran laporan anak buahnya. Deng­an ke­cen­de­rung­an yang demi­kian, maka para petinggi ke­po­lisian itu se­ring­kali tidak tahu adanya pe­nyim­pangan oleh anak buah­nya.

“Lihat saja pada kasus Gayus sebelumnya. Yang terseret itu Kompol Arafat dan AKP Sri Sumartini, sekarang ada lagi sembilan anggota kepolisian  yang berasal dari tingkat bawah juga terseret kasus Gayus. Ar­ti­nya dari situ, ada semacam pe­nga­wasan yang kurang dari atasan,” ujarnya.

Karenanya pula, bilang politisi PDIP ini, para petinggi kepolisian tidak boleh terlena ha­nya menerima laporan dari anak buahnya. Budaya hilang ke­ndali atasan seperti inilah yang menurut dia, harus bisa dikikis atau dihilangkan oleh para personel kepolisian yang saat ini menempati pos-pos sebagai pimpinan kepolisian. [RM]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA