Makanya Kepala Bagian Reserse dan Kriminal (KabaresÂkrim) Mabes Polri itu mengÂanggap lucu-lucuan saja saat namanya disebut-sebut calon Kapolri yang diajukan Presiden SBY ke DPR.
“Saya sudah tahu kok dari awal bahwa itu rumor. Makanya saya senang saja kalau kemudian Presiden memilih Timur Pradopo sebagai calon Kapolri,’’ ujarnya kepada
Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Berikut kutipan selengkapnya:
Timur Pradopo dipilih SBY sebagai calon Kapolri, komenÂtar Anda?Saya senang saja. Itu berarti pilihan terbaik. Kita harus menÂdukung, harus loyal mendukung. Gitu saja.
Timur Pradopo kan baru-baru diangkat jadi bintang tiga, bukankah ini bisa menimÂbulÂkan sekat angkatan ?Itu kan semua hak prerogatif Presiden. Kita harus menghorÂmati dan harus mendukung apaÂpun alasannya. Tentu ada pertimÂbangan khusus dari Bapak SBY.
Sudah siap bersinergi dengÂan Timur Pradopo jika terpilih jadi Kapolri?Dengan siapapun juga kita harus siap dong. Kita kan anak buah, ya kan. Buat saya sih memang kemarin itu (pencalonan itu) kan lucu-lucu saja, lho kok tiba-tiba saya diberitakan jadi calon Kapolri. Kan saya pasti kendalanya usia. Pasti. Kalau bukan kendala usia, ada harapan kali. Tapi saya sudah menyadari bahwa usia itu merupakan kenÂdala utama, jadi terlalu pendek kan.
Jadi, puas nih jadi bintang tiga saja?Dengan bintang tiga itu sudah
alhamdulillah banget. Kita harus mensyukuri apa yang kita dapat. Itu saja.
O ya, kenapa sih detik-detik terakhir nama Anda disebut-seÂbut yang dikirim Presiden ke DPR?Saya nggak tahu. Yang jelas, itu lucu-lucuan saja. Sebab, kalau Presiden melakukan penunjukan calon Kapolri biasanya itu ada alasan-alasannya. Penunjukan ke saya, kan nggak ada alasan. MakaÂnya dari awal saya anggap itu rumor saja.
Kenapa dari awal menduga seperti itu, padahal pimpinan parÂpol dan anggota DPR semÂpat menjagokan Anda?Begini ya, untuk jabatan KaÂpolri itu kan sudah ada mekanisÂmenya ya. Kalau memang kita diarahkan ke sana, pasti kita diÂpanggil. Tapi saya tidak ada panggilan maupun pemberitaÂhuan.
Bagaimana Anda melihat tanÂtangan kepolisian ke depan, apakah konsentrasi di pembeÂrantasan terorisme saja?O, tidak. Masih banyak yang harus dikerjakan. Masalah kejaÂhatan itu kan sangat-sangat berÂvariasi. Dan tantangan yang diÂhadapi kepolisian, saya kira juga makin banyaklah.
Apakah benar basis teroÂrisÂme saat ini berada di SumaÂtera?Nggak, dia bergerak terus kan. Seluruh Indonesia kan ada daeÂrah-daerah yang potensi terjadiÂnya konflik. Konflik itu kan terorisme teratur bentuknya. Dia bergerak dan terus menjadi perÂhatian dari Mabes Polri dan DenÂsus 88.
Terorisme sudah masuk peÂrang kota, tak lagi seÂmata-mata bom buÂnuh diri?Belum. Kita masih mengkaji modus operandinya.
Saat ini ada upaya melibatÂkan TNI dalam pemberantasan teroris, menurut Anda bagaiÂmana?Kita kembali ke Undang-unÂdangÂnya saja. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian dan Undang-Undang Nomor 34 tahun 2004 tentang TNI. Di situ jelas disebutkan, kalau situasi dianggap sudah memerlukan bantuan dari TNI yang punya kemampuan khusus, ya kita bekerja sama. Tentunya pasti kita melibatkan TNI. Kan dengan adanya kejadian di beÂberapa tempat kan cukup mengÂuÂras personil yang ada di kita. Nah kita minta bantuan TNI. Kan masalah keamanan tanggung jawab semua kompoÂnen masyaÂrakat.
Densus mencium paling baÂnyak aksi terorisme?Jelaslah. Mencium aksi teroÂrisme di seluruh Indonesia, perÂsisnya sejumlah daerah tertentu.
Tapi Densus 88 masih sangÂgup kan?Ya kita masih sangguplah dalam batas tertentu. Tapi kalau sudah menyangkut keahlian seperti penyanderaan tnetu kita minta tolong. Kalau penyanÂderaan di laut minta tolong sama detasemen Den Jaka. Sedangkan di darat minta tolong sama detaÂsemen Bravo. Sebab, mereka dilatih khusus untuk menangani situasi demikian. Kita kan tidak dilatih khusus.
Apa Mabes Polri mencium bahwa terorisme ini sudah mengÂarah pada ideologi senÂdiri?Ya jelas mereka kan punya ideologi sendiri. Punya struktur dan misi yang berbeda. Tapi pada intinya gerakan mereka kan ke yang tadi, untuk mendirikan NII (Negara Islam Indonesia, red). Selain itu kan ada juga yang meÂmang dari sempalan-sempalan gerakan radikal yang selama ini sudah ditangani oleh Densus 88. Jadi sisa-sisanya bergabunglah mereka. Membentuk suatu jaÂringan baru. Itu yang kita harus hadapi saat ini.
[RM]
BERITA TERKAIT: