WAWANCARA

Muhammad Nuh: Kerja Keras Karena Takut Di-reshuffle, Itu Namanya Pemaksaan & Tak Ikhlas

Senin, 04 Oktober 2010, 06:57 WIB
Muhammad Nuh: Kerja Keras Karena Takut Di-reshuffle, Itu Namanya Pemaksaan & Tak Ikhlas
RMOL. Keterlambatan turunnya dana dari  Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara-Perubahan (APBN-P).

“Misalnya pemberian maka­nan tambahan untuk anak seko­lah. Ini gara-gara anggarannya be­l­um turun. Itu kan dananya dari APBN-P. Nah APBN-P  kan baru rampung Agustus. Maka­nya sem­pat merah. Tapi setelah mereka selesaikan, anggaran tu­run, ya su­dah jalan sekarang,’’ ujarnya ke­pada Rakyat Merdeka, di Jakarta, belum lama ini.

Untuk itu, Nuh tidak memikir­kan akan kena reshuffle atau tidak seusai evaluasi setahun kinerja menteri yang dilaksanakan 20 Oktober mendatang.

“Bekerja keas karena takut di-reshuffle, itu namanya bekerja se­cara pemaksaan dan tidak ikhlas. Malah kerjanya nggak bisa khu­syuk,’’ ucapnya.

Berikut kutipan selengkpanya:

Kontrak kinerja 1 tahun deng­an Presiden, hasilnya ba­gai­mana?
Jadi kita itu kan ada be­berapa kontrak dengan Presiden.

Pertama, kontrak ki­nerja yang diteken saat fit dan proper test. Ke­dua, terkait dengan In­pres (Ins­truksi Presi­den) Nomor 1. Ke­tiga, terkait Inpres Nomor 3. Di­tambah lagi yang terkait deng­an Renstra 2010-2011.

Bagaimana hasilnya?
Kalau itu kita lihat dari ca­­paian Ke­men­­terian Diknas me­mang di­namis. Ka­dang ada juga yang ni­lai­nya me­­rah. Tapi kalau di­lihat sampai posisi se­karang yang akan disampaikan ke UKP4, alham­dulillah baik dari dari sisi kontrak kinerja maupun tantangan tam­bahan pekerjaan yang memang harus diselesai­kan. Ini artinya pro­gram di ke­men­terian itu sudah bisa di­capai.

Jadi sudah dilaksanakan se­mua?
Persoalan kementerian itu kan tidak hanya persoalan yang ter­tulis saja. Banyak juga dinamika yang ada di masyarakat yang ke­menterian juga harus bisa men­jawab dan menyelesai­kan. Kalau yang tertulis itu mesti dikerjakan. Tapi bu­kan ber­arti yang lain itu tidak di­kerjakan.

Maksudnya?
Pekerjaan yang tidak ter­tulis itu kan harus juga di­laksanakan, ma­lah itu le­bih banyak. Nah kalau melihat target-target itu ya alham­­­dulillah semuanya bisa dica­pai. Tetapi prinsipnya kalau saya sih, kerja itu ya kerja saja. Kerja yang baik. Monggo silakan dievaluasi. Kalau bahasa agama­nya itu, fakhuli’malu fa­shoi­rullahi amalakum wa rasu­luh. Nyambut gaweyo sing teme­nan nggo pengeranmu, nabimu lan wong liyo ndelok hasile ki opo? (Mau kerja bagus, bekerja­lah yang sungguh-sungguh untuk Tu­hanmu, nabimu dan orang-orang lain. Lihat hasilnya nanti seperti apa?). Saya sih prinsipnya gitu saja.

Ada yang merah nggak pak dari evaluasi internal?
Hasil evaluasi bulan yang ke­enam itu memang ada yang merah.

Apa itu?
Misalnya pemberian makanan tambahan untuk anak sekolah. Ini gara-gara anggarannya belum tu­run. Itu kan dananya dari APBN-P. Nah APBN-P kan baru ram­pung Agustus. Makanya sempat merah. Tapi setelah mereka sele­saikan, anggaran turun, ya sudah jalan. Makanya saya berkunjung ke daerah itu kan antara lain un­tuk memastikan bahwa pekerjaan pemberian makanan tambahan yang tadinya merah sekarang bisa jalan. Artinya kan sudah hijau lagi. Jadi ada kalanya merah itu bukan karena apa-apa tapi sinkro­nisasi dengan anggaran.

Seperti yang disinkronisasi di APBNP, ter­nyatakan APBNP yang mesti­nya sekarang bisa disele­sai­kan ternyata memerlu­kan koordi­nasi lagi yang beda. Ke­men­terian yang lain pun juga ada yang mengalami hal-hal seperti itu.

Berarti belum ada hambatan ya?
Sampai dengan saat ini alham­dulillah meskipun harus kerja ekstra keras, tetapi ya masih bisa dipenuhi. Meskipun kan belum puas karena masih banyak hal yang harus diperbaiki. Kalau bisa itu tidak hanya sekadar hijau, kalau bisa itu harus biru. Artinya harus ada ekstra force gitu.

Untuk mencapai itu, apa yang dilakukan?
Tidak cukup menggunakan kerja as usual. Tapi harus mem­buat terobosan-terobosan. Karena itu kami juga melakukan refor­masi birokrasi.

Banyak pihak mengkaitkan evaluasi kinerja menteri seta­hun dengan reshuffle?
Saya sih nggak terlalu ngikutin hal-hal yang seperti itu. Itu se­pe­nuhnya kewenangan Presiden dan juga bagian dari takdir. Yang penting kan bekerja. Kita serah­kan saja sepenuhnya. Kita-kita itu kan tugasnya membantu Presi­den, karena itu kita harus all out, bekerja dengan baik supaya uru­san dan tugas-tugas yang diberi­kan bisa dilaksanakan dengan baik. Habis itu, ya sudah, kami serahkan kembali sepenuhnya pada beliau.

Kira-kira aman nggak dari reshuffle?
Kita bekerja bukan untuk takut di-reshuffle atau apa. Tidak ada hubungannya itu. Pokoknya apa yang ditugasin, itu diselesaikan, dikerjakan dengan baik, sudah, gitu saja. Kalau kita bekerja ka­rena takut di-reshuffle nanti ma­lah tidak bisa khusyuk.

Bekerja keras bukan karena takut. Saya kira bukan begitu. Jadi apa yang su­dah diamanah­kan karena ini me­mang amanah, ya harus all out. Kalau ada persoalan ya kita sampaikan ada persoalan, ini di luar kemampuan. Saya yakin kalau segalanya di­kerjakan dengan ikhlas, dengan baik, toh kalau ada kesulitan dan di luar kemampuan, ya mau apa lagi. Kan tidak bisa dipaksakan. Yang penting tak ada interest-interest yang aneh lah.   [RM]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA