WAWANCARA

Syarief Hasan: Menjelang Evaluasi Kinerja Menteri, Setgab Parpol Koalisi Kian Kompak

Selasa, 28 September 2010, 07:03 WIB
Syarief Hasan: Menjelang Evaluasi Kinerja Menteri, Setgab Parpol Koalisi Kian Kompak
RMOL. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop dan UKM) Syarief Hasan mengaku tidak mau energinya tersedot untuk memikirkan soal reshuffle kabinet.

Yang penting, melaksanakan tugas secara maksimal dan sebaik mungkin.

Makanya menteri dari Partai Demokrat itu terus melakukan tero­bosan-terobosan untuk pe­ningkatan koperasi dan UKM demi perbaikan ekonomi kerak­yatan.

“Urusan reshuffle kabinet nggak usah dipikirin. Sebab, itu hak prerogatif Presiden. Yang penting bagi saya adalah bekerja dan bekerja untuk memperbaiki ekonomi masyarakat,’’ ujar Syarief Hasan kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Berikut kutipan wawancara dengan Sekretaris Setgab Parpol Koalisi itu:

Sepertinya Anda percaya diri nggak kena reshuffle ya?
Ah, nggak seperti itu juga. Yang saya maksud adalah nggak usah terlalu risau soal reshuffle kabinet itu. Kita sebagai menteri, kan punya kewajiban untuk bekerja keras. Nah, kita lakukan saja secara maksimal. Soal re­shuffle kabinet, kan urusan Presiden.

Tapi ada reshuffle kabinet se­usai evaluasi kinerja menteri?
Saya tidak tahu. Itu kan kewe­nangan Presiden.

Anda kan kader Partai De­mo­­krat yang dikenal dekat dengan SBY, masa nggak tahu sih?
Yang saya tahu itu tanggal 20 Oktober mendatang dilakukan evaluasi terhadap kinerja men­teri. Kalau soal reshuffle kabi­net, saya nggak tahu. Itu sepe­nuhnya  ke­wenangan Presiden. Meski beliau sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demo­krat, kami tidak tahu soal itu. Lagipula, Partai Demo­krat tidak ada niat untuk meng­usulkan adanya reshuffle kabinet. Jadi, semuanya terserah Presiden saja.  

Tapi sejumlah kader Partai Demokrat dengan terang-te­rang­an meminta perlunya re­shuffle kabinet?    
Itu kan pendapat pribadi, bukan suara Partai Demokrat. Kalau partai kami sudah jelas, tidak ada niat untuk mengusulkan reshuffle kabinet.

O ya, apa ada pembicaraan soal reshuffle kabinet saat ra­pat Setgab Parpol Koalisi?
Tidak ada. Sebab, semua pe­serta rapat tahu bahwa ini meru­pakan hak prerogatif Presiden. Dalam rapat tiap minggu itu selalu langsung ke materi pem­bahasan. Misalnya saja yang terakhir, rapat soal APBN. Sedikit pun tidak menyinggung soal reshuffle.

Apakah ada pergesekan?
Ooo, tidak ada. Malah menje­lang evaluasi setahun kinerja men­­teri, peserta rapat Setgab Parpol Koalisi kian kompak dan sangat akrab. Nggak ada masalah apa-apa. Semuanya normal saja.

Siapa saja yang hadir dalam rapat Setgab?
Ya, semuanya, termasuk pim­pinan enam Fraksi DPR (Partai Demokrat, Partai Golkar, PAN, PKS, PPP, dan PKB). Kami semuanya solid. Ini tentu cukup menyenangkan.

Apakah ini pertanda tidak ada reshuffle?
Itu juga saya nggak tahu. Bagi saya, yang penting itu bekerja maksimal dan optimal. Soal reshuffle, serahkan saja kepada Pak SBY.

Apakah Anda sudah maksi­mal bekerja?
Kalau menurut saya, itu ya. Saya bekerja maksimal untuk melaksanakan tugas-tugas yang diembankan ke saya.

Jadi sudah siap dievaluasi 20 Oktober mendatang?
Siap atau tidak siap, kan harus siap.

Apa target sudah dicapai semuanya?
Sudah. Mudah-mudahan de­ngan kerja keras selama ini, pe­nilaiannya nanti bagus. Apalagi penilaian

Unit Kerja Presiden bidang Pengendalian dan Pengawasan Pembangunan (UKP4) sebelum­nya juga bagus. Jadi, kita tentu berharap hasilnya tetap bagus.

Apa saja target yang sudah dicapai itu?
Antara lain penyediaan Tempat Praktik Ketrampilan Usaha (TPKU), pembentukan kewirau­sahaan, pemberdayaan koperasi, dan usaha kecil menengah (UKM), memperbanyak revitali­sasi pasar tradisional, memper­banyak Koperasi Usaha Rakyat (KUR).

Apakah ada upaya merubah paradigma agar mahasiswa se­telah lulus bukan mencari pe­ker­jaan tapi menciptakan pe­kerjaan?
O ya, tentu terus diupayakan itu. Makanya saya sering ke kampus-kampus. Sampai seka­rang ini sudah 15 kampus saya kunjungi.  Kemudian kita adakan workshop kewirausahaan, dan memfasilitasi mereka dengan pe­nyediaan dana lewat kredit. Ini dilakukan untuk mencegah peng­ang­guran dan bisa menciptakan wirausaha muda.

Yakin strategi ini berhasil?
Saya yakin generasi muda bisa mengubah paradigma itu, tapi tentunya butuh waktu. Makanya kami terus-terusan melakukan kunjungan ke kampus-kampus untuk meyakinkan mahasiswa agar begitu lulus bisa berupaya untuk membuka bisnis.

Soal revitalisasi pasar tra­disional?
Ini untuk meningkatkan eko­nomi kerakyatan. Kan di pasar ini banyak koperasi dan UKM. Kalau pasar tradiosonal mengge­liat, tentu ekonomi rakyat meng­geliat. 

Begitu juga soal KUR. Kalau target pemerintah berhasil dila­kukan, yakni bisa menyalurkan Rp 18 triliun per tahun, tentu ini positif untuk pengembangan usaha.

Dengan begitu bisa mening­kat terus dari usaha mikro (infor­mal) menjadi pengusaha kecil. Dalam setahun ini terjadi peningka­tan­nya 12 persen. Sedangkan  peng­u­saha kecil ke pengusaha me­nengah terjadi peningkatan 4 persen. Kemu­dian pengusaha menengah me­ningkat ke pengu­saha besar sebanyak 400 orang.

Bagaimana kalau koperasi?
Itu juga ada peningkatan. Kalau sebelumnya 155.000-an,  kini sudah meningkat menjadi 175.102 koperasi. Jadi, koperasi juga perkembangannya sangat bagus. Ini mencakup koperasi produsen, konsumen, koperasi simpan pinjam dan unit simpan pinjam (KSP/USP), pemasaran,  serta koperasi jasa.   [RM]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA