Nilai di Balik Ibadah Khusus yang Tidak Bisa Dipamerkan

Selasa, 10 Agustus 2010, 21:49 WIB
Nilai di Balik Ibadah Khusus yang Tidak Bisa Dipamerkan
HARI pertama bulan suci Ramadhan tentu memompa semangat Ummat Islam. Ini adalah momentum untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Berpuasa di Bulan Ramadhan yang penuh maghfiroh, sesungguhnya memiliki arti yang begitu dalam dan luas. Urusannya tak hanya bersifat individual, atau sekadar urusan ibadah atau ritual semata.

Puasa memiliki esensi sosiologis yang sangat agung. Doktrin puasa juga mengajarkan kita untuk menumbuhkan jiwa sosial yang berdimensi sosiologis. Karena itu salah satu hikmah utama dan terpenting makna kehadiran Ramadhan; untuk memupuk tumbuhnya ruhani yang memiliki sifat mulia dan belas kasih kepada sesama.

Doktrin berpuasa, semakin menonjol dengan adanya perintah menjalankan membayar zakat. Sabda Nabi, pahala seorang hamba yang berpuasa ibarat tergantung di antara langit dan bumi, sebelum dibayarkan zakatnya.

Sebagai ibadah pribadi, secara teologis ibadah puasa memang merupakan ritual yang khusus, yang diketahui hanya oleh Allah dan pelakunya. Berbeda dengan amalan ibadah lain, puasa tidak dapat “dipamerkan”. Unsur eksibisionisme puasa amat minim. Dalam salah satu riwayat hadist Qudsi, Allah menegaskan bahwa “Puasa adalah untuk-Ku, dan Aku yang akan memberinya pahala puasa seorang hamba-Ku.” [msk]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA