Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa konflik akan berlangsung lebih lama, bahkan berpotensi meluas ke kawasan regional.
Ketua Pusat Studi Amerika Universitas Indonesia, Suzie Sudarman, menilai belum ada titik temu karena tidak ada pihak yang mampu menjembatani kepentingan kedua kubu.
Perkembangan terbaru ditandai dengan jatuhnya puing hasil intersepsi rudal Iran di wilayah Israel. Insiden ini menyebabkan korban jiwa serta kerusakan bangunan.
Berdasarkan data layanan darurat Israel, sedikitnya 19 orang dilaporkan tewas akibat serangan tersebut.
Di saat yang sama, konflik turut meluas ke Lebanon melalui keterlibatan kelompok Hizbullah. Serangan balasan pun terus terjadi di berbagai titik, memperumit situasi keamanan di kawasan.
Kondisi ini semakin menyulitkan upaya diplomasi yang tengah dilakukan secara tertutup oleh sejumlah negara.
“Kan ada kelompok empat negara itu yang sedang melakukan negosiasi di balik layar ya, Pakistan dan kawan-kawan ya,” ujar Suzie di Jakarta, Sabtu, 4 April 2026.
Namun hingga kini, negosiasi tersebut belum menghasilkan kesepakatan yang konkret.
Menurut Suzie, Iran tidak akan mudah menerima tekanan untuk menghentikan perang karena merasa bukan pihak agresor.
“Iran kan bukan negara agresor. Jadi jangan diharap dia melakukan sesuatu untuk menyerahkan diri,” jelasnya.
Dengan belum adanya kesepakatan damai serta meningkatnya keterlibatan aktor regional maupun global, konflik ini dinilai masih jauh dari penyelesaian. Jika situasi terus berlanjut, ketegangan berisiko semakin meningkat dan berlangsung dalam jangka waktu yang tidak singkat.
BERITA TERKAIT: