Bukan miliarder konten. Bukan miliarder janji. Bukan miliarder yang hartanya masih berupa “segera cair”. Ini Rp3 miliar.
Presiden Prabowo menyampaikan bonus itu saat melepas Kontingen Indonesia menuju Asian Games XX Aichi-Nagoya 2026, 9 September 2026. Tetapi ada catatan penting. Angka Rp3 miliar itu untuk peraih emas nomor perorangan.
Bandingkan dengan Asian Games Hangzhou 2022. Saat itu emas perorangan mendapat Rp1,575 miliar. Emas ganda Rp1,05 miliar dan emas beregu Rp787,5 juta. Perak perorangan Rp525 juta, ganda Rp420 juta, beregu Rp315 juta. Perunggu perorangan Rp262,5 juta, ganda Rp210 juta, beregu Rp157,5 juta.
Sekarang emas perorangan menjadi Rp3 miliar. Naiknya sekitar Rp1,425 miliar, atau sekitar 90,5 persen. Wah, emasnya tetap 24 karat, tetapi bonusnya sudah seperti naik kelas ekonomi.
Yang lebih menarik, target Indonesia kali ini justru empat emas. Padahal di Hangzhou 2022 Indonesia berhasil membawa pulang tujuh emas.
Jangan salah paham. Target turun bukan berarti pemerintah kehilangan optimisme. Ada alasan teknis. Tiga nomor dulu menyumbangkan emas tidak dilombakan lagi, yakni dua nomor
dragon boat dan satu nomor menembak.
Kalau empat emas semuanya berasal dari nomor perorangan, hitungan warung kopinya sederhana: 4 × Rp3 miliar = Rp12 miliar. Rp12 miliar! Di warkop tempat tongkrongan saya, angka sebesar itu kalau dibelikan pisang goreng, warkopnya langsung roboh.
Namun jangan buru-buru menyimpulkan pemerintah harus menyiapkan Rp12 miliar. Sebab nomor ganda dan beregu memiliki skema berbeda, masih dihitung. Bonus perak dan perunggu juga belum diumumkan.
Respons atlet pun menarik. Ketua Umum PBSI Fadil Imran menyebut bonus tersebut bisa menambah semangat atlet. PBSI berencana memberikan bonus tambahan sesuai kemampuan organisasi.
Lifter senior Eko Yuli Irawan juga menyambut positif. Bonus itu dianggap menjadi penyemangat bagi atlet. Semangatnya sendiri untuk bersaing kembali disebut semakin “kenceng”.
Wajar saja. Atlet tetap manusia. Mereka bisa berlatih karena cinta Merah Putih, mengejar kehormatan, memburu prestasi, sekaligus tentu tidak akan marah kalau rekening ikut tersenyum.
Tetapi Wamenpora Taufik Hidayat mengingatkan, atlet harus mengejar prestasi terlebih dahulu, bonus kemudian. Bonus adalah apresiasi atas prestasi, bukan tujuan utama.
Ketua Umum PB PABSI Rosan Perkasa Roeslani juga menilai bonus itu sebagai apresiasi luar biasa pemerintah. Namun emas bukan sekadar uang. Ada kehormatan atlet dan kebanggaan bangsa.
Ketika Prabowo mengumumkan Rp3 miliar, tepuk tangan atlet langsung riuh. Manusiawi sih. Mungkin ada tepuk tangan karena bangga. Ada karena terharu. Ada juga dalam hati sedang menghitung, “Rp3 miliar... kalau dapat emas, jadi berapa setelah ini dan itu?”
Kalkulator belum dinyalakan, tetapi otak sudah bekerja lembur. Namun inti persoalannya tetap indah. Negara sedang memberi pesan, keringat atlet punya harga dan prestasi mereka layak dihargai.
Target boleh empat emas. Tetapi semangat jangan empat. Harus empat puluh. Sebab mereka tidak berangkat ke Jepang untuk mengejar uang semata. Mereka berangkat membawa nama Indonesia.
Kalau emas berhasil dibawa pulang, Merah Putih berkibar, Indonesia Raya menggema, lalu Rp3 miliar masuk rekening, itu bukan sekadar bonus. Itu seperti negara berkata kepada atlet, “Nak, kau sudah membuat bangsa ini bangga. Sekarang biarkan rekeningmu ikut merasakan kebanggaan itu.”
Kali ini memang pantas acungi jempol. Emasnya harus dikejar. Prestasinya harus diperjuangkan. Bonusnya? Jangan ditolak. Nasionalisme boleh membara, rekening juga boleh ikut sejahtera.
Begitulah olahraga zaman sekarang. Dulu atlet mengejar emas untuk kebanggaan. Sekarang? Kejar kebanggaan, dapat emas, pulang-pulang jadi miliarder.
Rosadi JamaniMantan wartawan
BERITA TERKAIT: