Abu Jatuh, Suara Berhamburan

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/ahmadie-thaha-5'>AHMADIE THAHA</a>
OLEH: AHMADIE THAHA
  • Selasa, 08 September 2026, 05:10 WIB
Abu Jatuh, Suara Berhamburan
Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi Penulis)
Kecil Besar
PAGI itu, Jakarta seperti baru saja ditaburi tepung yang salah resep. Mobil menjadi kusam, lantai halte berdebu, dan kaca jendela menyimpan lapisan tipis berwarna kelabu. Orang-orang menengadah, sebagian mencari awan, sebagian mencari jawaban.

Di layar telepon genggam, gambar yang sama berpindah dari satu grup WhatsApp ke grup lain: lapisan debu di permukaan kendaraan, atap rumah, jalan raya, juga wajah warga yang mulai mengenakan masker. Bedanya dengan hujan biasa, kali ini yang jatuh dari langit adalah abu.

Seperti lazimnya peristiwa tak biasa, yang ikut turun bukan hanya partikel vulkanik, melainkan juga rentetan nasihat, peringatan, klarifikasi, instruksi, video pendek, komentar, lelucon, kepanikan, hingga artikulasi politik.

Pekan ini hampir semua lembaga seolah memegang mikrofon yang sama. Kementerian  Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Perhubungan, BMKG, Badan Geologi, BNPB, pemerintah daerah, dokter, pakar, hingga warganet beramai-ramai angkat bicara.

Saya tak memiliki statistik volume pernyataan mereka. Tapi dari percakapan publik yang mengiringinya, satu hal cukup jelas: banyaknya suara tidak otomatis menghasilkan pengetahuan yang lebih jernih.

Percakapan mengenai sebaran abu Gunung Anak Krakatau setidaknya memperlihatkan lima kecenderungan suara publik.

Pertama, suara pengalaman langsung dari warga yang menyaksikan abu menempel di pekarangan, kendaraan, dan fasilitas umum. Pengalaman itu membuat fenomena gunung api di Selat Sunda yang semula terasa jauh mendadak menjadi urusan halaman rumah.

Kedua, suara kecemasan, antara lain ditandai oleh meningkatnya pencarian dan pembelian masker di sejumlah tempat. Ketika sesuatu yang semula hanya diberitakan di layar mulai dicari di apotek dan toko, ancaman itu telah berubah dari informasi menjadi pengalaman sosial.

Ketiga, suara praktis dari publik yang membutuhkan petunjuk konkret. Tentang masker apa yang efektif, bagaimana membersihkan rumah dan kendaraan, apakah anak-anak perlu dibatasi aktivitasnya, dan kapan seseorang perlu memeriksakan diri.

Dalam keadaan seperti ini, masyarakat tidak terutama membutuhkan istilah teknis, melainkan pengetahuan yang dapat segera dipakai.

Keempat, suara skeptis yang mempertanyakan batas antara alarm bahaya dan bahaya yang sebenarnya. Sikap skeptis semacam ini tidak selalu buruk. Ia justru diperlukan agar peringatan publik tidak berubah menjadi pembesaran ancaman.

Jika setiap risiko digambarkan seolah-olah bencana besar, masyarakat lambat laun dapat mengalami kelelahan terhadap peringatan dan menganggapnya seperti bunyi mesin pendingin yang terus menyala.

Kelima, suara politik. Unggahan mengenai abu vulkanik dengan mudah bergeser dari persoalan  kesehatan dan  keselamatan menjadi perdebatan tentang siapa yang paling peduli, siapa yang dianggap gagal, dan siapa yang dianggap lebih layak memimpin.

Media sosial memang memiliki kecenderungan mengubah hampir setiap peristiwa publik menjadi perdebatan tentang persepsi.

Di sinilah media sosial bekerja sebagai cermin. Bencana alam masuk sebagai fakta, lalu keluar sebagai persepsi. Abu menjadi kesehatan, kesehatan menjadi kebijakan, dan kebijakan dapat bergeser menjadi komoditas politik -- padahal gunung api tidak pernah membaca hasil survei.

-000-

Secara ilmiah, abu vulkanik (volcanic ash) bukanlah debu biasa. Dalam vulkanologi, abu adalah material piroklastik berukuran kurang dari dua milimeter yang terbentuk ketika magma dan batuan terfragmentasi selama erupsi.

Komposisinya bukan satu zat tunggal, melainkan campuran kaca vulkanik, mineral, kristal, dan fragmen batuan. Karena itu, sifat dan tingkat bahayanya tidak dapat ditentukan hanya dengan menyebutnya sebagai “abu”.Geologi

Ukuran partikel, bentuk, komposisi mineral, kandungan silika kristalin, serta sifat kimia permukaannya ikut menentukan bagaimana abu tersebut berinteraksi dengan tubuh dan lingkungan.

Ukuran partikel menjadi salah satu faktor terpenting. Partikel yang cukup kecil untuk terhirup dapat melewati mekanisme penyaringan alami saluran pernapasan dan mencapai bagian paru-paru yang lebih dalam. Partikel respirabel, khususnya yang berukuran kurang dari sekitar sepuluh mikrometer, karena itu menjadi perhatian kesehatan.

Tapi di sinilah bahasa populer kadang melangkah terlalu jauh. Menjelaskan abu vulkanik sebagai “pecahan kaca tajam yang mengiris alveolus” memang mudah dibayangkan, tapi secara ilmiah tidak tepat.

Partikel mikroskopis di dalam paru-paru tidak bekerja seperti serpihan kaca yang menggores jaringan. Bahayanya lebih berkaitan dengan iritasi, sifat reaktif permukaan partikel, kandungan mineral tertentu, serta respons biologis tubuh.

Kajian Claire Horwell dan Peter Baxter mengenai bahaya pernapasan abu vulkanik menunjukkan bahwa dampaknya dapat berupa iritasi saluran pernapasan, batuk, mengi, dan memburuknya kondisi seperti asma.

Besarnya dampak bergantung pada karakter abu dan tingkat paparannya. Jadi, mengatakan bahwa abu berbahaya adalah benar; mengatakan bahwa setiap abu akan menimbulkan kerusakan paru yang sama adalah keliru.

Begitu pula dengan persoalan keasaman. Abu segar yang keluar bersama kolom erupsi dapat membawa lapisan garam dan senyawa yang terbentuk dari interaksi dengan gas vulkanik, antara lain HCl, HF, dan SO?. Lapisan ini dapat berkontribusi terhadap iritasi mata dan saluran pernapasan.

Namun, sifat kimia abu tidak berhenti pada saat keluar dari kawah. Selama terbawa atmosfer, partikel mengalami perubahan akibat jarak, kelembapan, hujan, dan berbagai reaksi kimia.

Karena itu, tingkat bahayanya tidak dapat disimpulkan hanya dari keberadaan satu jenis senyawa, melainkan harus dilihat bersama karakter partikel dan tingkat paparannya.

Persoalan ini sekaligus mengingatkan kita bahwa dampak bencana jarang disebabkan oleh satu faktor tunggal. Sejarah letusan Gunung Laki di Islandia pada 1783-1784 dan Gunung Tambora di Sumbawa pada 1815 memperlihatkan bagaimana sebuah erupsi dapat menimbulkan rangkaian dampak yang jauh melampaui lokasi letusan.

Korban dalam kedua peristiwa tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh orang yang menghirup abu. Kerusakan tanaman, kematian ternak, kekurangan pangan, memburuknya kesehatan masyarakat, penyakit, dan dalam kasus Tambora perubahan iklim global ikut membentuk rantai dampaknya.

Bencana, dengan demikian, lebih tepat dipahami sebagai rangkaian daripada sebagai satu kejadian tunggal. Gunung meletus hanyalah awal dari sebuah proses panjang yang kemudian berinteraksi dengan kehidupan manusia, lingkungan, ekonomi, teknologi, dan kesehatan masyarakat.

-000-

Pada erupsi Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026, BMKG mengidentifikasi sebaran abu yang mencakup Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu. Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh warga, tapi juga oleh sistem penerbangan.

Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, dan Budiarto sempat mengalami penutupan sementara demi keselamatan penerbangan. Ribuan penerbangan terdampak oleh gangguan yang berkaitan dengan sebaran abu vulkanik.

Mengapa material yang bagi manusia tampak seperti debu dapat begitu berbahaya bagi pesawat? Rupanya, di dalam mesin jet, partikel abu yang masuk ke bagian mesin dapat meleleh pada temperatur tinggi dan kemudian mengendap pada komponen mesin.

Endapan tersebut dapat mengganggu aliran udara dan kinerja mesin. Karena itu, awan abu vulkanik merupakan salah satu bahaya serius bagi penerbangan.

Di sini terdapat kontras yang menarik. Teknologi penerbangan modern mampu membawa manusia ribuan kilometer dalam beberapa jam, tapi tetap harus memberi jalan kepada partikel batuan yang ukurannya bahkan lebih kecil dari butiran pasir.

Teknologi maju tidak menghapus hukum alam. Ia hanya membuat kita semakin pandai bernegosiasi dengannya.

-000-

Hingga saat ini, tidak ada laporan resmi mengenai korban jiwa yang secara langsung disebabkan oleh paparan abu vulkanik dari erupsi Anak Krakatau 2026. Fakta ini penting karena kita perlu membedakan antara hazard dan casualty, antara potensi bahaya dan korban yang benar-benar terjadi.

Di antara bahaya dan korban terdapat mitigasi. Masker respirator seperti N95 atau KN95, perlindungan mata, pembatasan aktivitas di luar ruangan ketika konsentrasi abu tinggi, penutupan sementara ruang udara, pemantauan sebaran abu, dan panduan  kesehatan merupakan bagian dari upaya memperlebar jarak antara potensi bahaya dan timbulnya korban.

Karena itu, tidak adanya korban jiwa bukan berarti abu vulkanik tidak berbahaya. Justru salah satu tujuan mitigasi adalah membuat bahaya tetap menjadi bahaya, tidak berubah menjadi korban.

Kekhawatiran mengenai penyakit jangka panjang seperti silikosis juga perlu ditempatkan secara proporsional. Silikosis berkaitan dengan paparan kronis terhadap silika kristalin respirabel dalam konsentrasi yang cukup tinggi dan dalam waktu yang panjang.

Abu vulkanik tertentu memang dapat mengandung fraksi silika kristalin yang respirabel, sehingga paparan berulang dan berkepanjangan patut diperhatikan, terutama bagi masyarakat yang tinggal atau bekerja di lingkungan yang sering mengalami hujan abu.

Tapi paparan abu selama beberapa hari tidak boleh begitu saja disebut sebagai penyebab silikosis. Bukti epidemiologi mengenai hubungan langsung antara paparan abu vulkanik dan silikosis pada manusia masih terbatas.

Untuk paparan jangka pendek, perhatian kesehatan yang lebih nyata adalah iritasi mata dan saluran pernapasan serta memburuknya penyakit pernapasan yang sudah ada.

Di sinilah ketepatan bahasa menjadi bagian dari mitigasi. Menakut-nakuti masyarakat dengan risiko yang belum terbukti sama buruknya dengan menyepelekan risiko yang sudah diketahui.

-000-

Persoalannya kemudian bukan kekurangan informasi, melainkan bagaimana informasi itu ditata. Dalam situasi bencana, masyarakat tidak membutuhkan banyak pintu yang masing-masing mengeluarkan pesan sendiri-sendiri.

Mereka membutuhkan satu arsitektur informasi yang jelas: apa yang terjadi, wilayah mana yang terdampak, apa bahayanya, siapa yang paling rentan, apa yang harus dilakukan, dan apa yang masih belum diketahui.

Lembaga yang berbeda tentu mempunyai mandat berbeda. BMKG berbicara mengenai cuaca dan sebaran atmosfer; Badan Geologi mengenai aktivitas gunung api; Kementerian  Kesehatan mengenai dampak kesehatan; Kementerian Perhubungan mengenai  keselamatan transportasi.

Perbedaan mandat itu wajar. Yang tidak perlu adalah membiarkan masyarakat menyusun sendiri potongan-potongan informasi tersebut menjadi sebuah kesimpulan. Koordinasi komunikasi karena itu sama pentingnya dengan koordinasi lapangan.

Informasi ilmiah perlu diterjemahkan menjadi instruksi yang sederhana tanpa kehilangan ketepatannya. Ketidakpastian juga perlu disebutkan sebagai ketidakpastian, bukan ditutup dengan kepastian yang dibuat-buat.

Seni komunikasi bencana bukan membesarkan atau mengecilkan ancaman, melainkan memberikan ukuran yang tepat terhadapnya. Masyarakat tidak membutuhkan pejabat yang paling keras suaranya, melainkan informasi yang paling presisi, konsisten, dan dapat dipercaya.

Sebab dalam bencana, informasi bukan sekadar pelengkap penanganan. Informasi itu sendiri adalah salah satu bentuk pertolongan.

Dan ketika abu sudah jatuh ke halaman rumah, yang dibutuhkan warga bukanlah suara yang paling banyak, melainkan suara yang membuat mereka tahu apa yang harus dilakukan.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA