Ada kebiasaan tak tertulis dalam tradisi akademik yang cenderung menyamakan ketebalan naskah dengan bobot intelektual. Skripsi seratus halaman dianggap lebih meyakinkan dari enam puluh halaman. Tesis dua ratus halaman dinilai lebih berbobot dari seratus dua puluh halaman. Dan disertasi seolah wajib berjilid-jilid tebalnya.
Namun, Albert Einstein pernah menghadirkan preseden yang mendobrak kebiasaan tersebut. Ia mengajukan disertasi doktoral berjudul
Eine neue Bestimmung der Moleküldimensionen ke Universitas Zürich pada 30 April 1905. Tebalnya memang hanya 17 halaman. Lalu ia menerima gelar doktor secara resmi pada 15 Januari 1906.
Cerita di balik penyerahan naskah tersebut kemudian berkembang menjadi legenda akademik yang populer. Konon, pembimbingnya mengembalikan disertasi itu semata-mata karena dianggap terlalu pendek. Einstein lantas menambahkan satu kalimat penjelas, menyerahkannya kembali, dan naskah itu pun langsung diterima.
Dalam versi populer lainnya, naskah 17 halaman tersebut kemudian dikenal sebagai 21 halaman setelah diterbitkan. Narasi ini seolah menggambarkan bahwa sang calon doktor hanya perlu memberikan sedikit tambahan pemanis agar syarat administratif akademik dapat terpenuhi.
Cerita tersebut memang menarik dituturkan, dan fakta ilmiah di balik naskah 17 halaman itu jauh lebih substansial untuk dibedah. Tapi, apabila ada yang mengira Einstein merumuskan teori gravitasi atau kosmologi modern dalam 17 halaman tersebut, dugaan itu dipastikan keliru.
Einstein sama sekali tak membahas teori relativitas umum di sana. Teori gravitasinya yang monumental pun baru lahir satu dasawarsa kemudian, dengan formulasi akhirnya pada 1915. Fokus disertasi Einstein justru menjawab satu pertanyaan mendasar dalam fisika: berapa sebenarnya ukuran sebuah molekul?
Pada awal abad ke-20, keberadaan atom dan molekul sebagai realitas fisik masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan. Sebagian mereka memandang atom sebagai entitas riil di alam, sementara sebagian lainnya menganggapnya sekadar abstraksi yang berguna untuk menjelaskan gejala fisik dan kimia.
Einstein termasuk ilmuwan yang meyakini bahwa dunia mikroskopis itu sungguh-sungguh ada. Ia tertarik membuktikan keberadaannya dengan merancang metode analisis yang menghubungkan fenomena yang tak kasat mata dengan besaran yang dapat diukur di laboratorium.
Melalui pendekatan hidrodinamika, Einstein mengamati perilaku cairan yang mengandung zat terlarut, seperti gula dalam air. Ketika molekul gula melarut, sifat fisik cairan mengalami perubahan, terutama pada tingkat viskositas atau kekentalannya dan pada proses difusi.
Dari hubungan antara viskositas, difusi, konsentrasi zat, dan ukuran partikel, Einstein merumuskan metode untuk memperkirakan ukuran molekul sekaligus menentukan bilangan Avogadro, yakni jumlah partikel dalam satu mol zat.
Einstein menggunakan data larutan gula dengan konsentrasi yang diketahui, bersama rumus baru untuk difusi. Tujuannya, untuk menghitung ukuran molekul dan jumlah molekul dalam satu mol dari viskositas larutan. Ia berhasil membuktikan keberadaan entitas yang tak terlihat melalui jejak perubahan fisik yang ditinggalkannya pada materi yang terlihat.
Inilah salah satu kekuatan utama metode ilmiah. Kita tidak perlu melihat angin secara langsung untuk membuktikan kehadirannya, melainkan cukup mengukur gerakan dedaunan yang ditiupnya. Kita tidak perlu memegang gravitasi untuk mengukur pengaruhnya, melainkan cukup mengamati percepatan jatuh suatu benda.
Einstein tidak perlu memotret bentuk molekul untuk menghitung dimensinya, melainkan membaca dinamika gerak cairan di sekitarnya.
Disertasi itu kemudian diterbitkan sebagai artikel di
Annalen der Physik pada 1906 dan menjadi salah satu karya Einstein yang paling sering dikutip. Arsip dan publikasi Universitas Zürich maupun Max Planck Institute mencatat karya tersebut sebagai bagian penting dari pekerjaan ilmiahnya tentang dimensi molekul.
Fakta ini memperlihatkan perbedaan tajam antara panjangnya suatu tulisan dan kedalaman sebuah gagasan. Ringkasnya sebuah naskah ilmiah sama sekali tidak identik dengan dangkalnya pemikiran.
Sayangnya, dunia akademik modern kadang mengidap kecenderungan untuk memperpanjang uraian secara berlebihan. Penulis kerap dituntut oleh dosen pembimbing untuk memperluas pembahasan, menambah sub bab, memperbanyak referensi, dan memperpanjang analisis.
Pembimbing Einstein juga berlaku demikian. Kendati demikian, narasi sejarah mengenai penolakan disertasi Einstein olehnya perlu dibaca secara kritis dan proporsional. Apakah disertasi tersebut benar-benar sempat ditolak hanya karena terlalu pendek?
Kisah mengenai dikembalikannya naskah tersebut memang berakar dari kesaksian lisan. Menurut biografi yang ditulis Carl Seelig, Einstein pernah menceritakan pengalaman tersebut sambil berseloroh bahwa naskahnya diterima tanpa keberatan setelah ia menambahkan satu kalimat.
Namun, tidak ada bukti dokumenter yang cukup kuat untuk memastikan episode tersebut persis terjadi seperti dalam cerita populer. Karena itu, kisah “satu kalimat” lebih tepat diperlakukan sebagai anekdot yang dituturkan Einstein daripada sebagai fakta administratif yang telah terbukti di arsip universitas.
Dokumen resmi justru menunjukkan bahwa dua profesor pengujinya, Alfred Kleiner dan Heinrich Burkhardt, menilai hasil kerja Ensteim secara positif. Namun, di kemudian hari memang ditemukan kesalahan dalam disertasi itu, dan justru di sinilah kisah Einstein menjadi lebih manusiawi.
Pada 1910, Jacques Bancelin melakukan eksperimen di lingkungan penelitian Jean-Baptiste Perrin. Ia memperoleh hasil yang menunjukkan bahwa koefisien viskositas dalam rumus Einstein tak cocok dengan pengamatan. Hasil eksperimen Bancelin menunjukkan faktor sekitar 3,8-3,9, sedangkan perhitungan Einstein semula memberikan faktor 1.
Einstein kemudian memeriksa kembali perhitungannya sendiri, tapi ia mengaku tak menemukan kesalahan. Ia kemudian meminta asistennya, Ludwig Hopf, untuk memeriksa ulang kalkulasi tersebut. Hopf menemukan kesalahan dalam diferensiasi beberapa komponen kecepatan yang digunakan dalam persamaan tekanan.
Setelah kesalahan itu diperbaiki, koefisien viskositas yang benar menjadi 2,5. Einstein kemudian menerbitkan koreksi resmi pada 1911 dengan judul Berichtigung zu meiner Arbeit: “Eine neue Bestimmung der Moleküldimensionen”. Einstein sendiri menjelaskan bahwa Hopf menemukan kesalahan perhitungan yang cukup memengaruhi hasil.
Koreksi tersebut bukan sekadar tambalan kecil di pinggir halaman. Ia mengubah hasil numeriknya. Dalam perhitungan awal disertasinya, Einstein memperoleh bilangan Avogadro sekitar 2,1 × 10²³. Setelah menggunakan data eksperimen yang lebih baik, nilainya menjadi sekitar 4,15 × 10²³.
Setelah kesalahan matematis itu ditemukan dan koefisien viskositas diperbaiki menjadi 2,5, Einstein menghitung ulang dan memperoleh sekitar 6,56 × 10²³ molekul per mol, nilai yang sudah dekat dengan nilai yang kemudian diterima, sekitar 6,02 × 10²³.
Genius pun rupanya bukan jalan yang selalu lurus seperti penggaris. Kadang ia harus berbelok karena angka di atas kertas bertabrakan dengan kenyataan di laboratorium.
Dalam kasus Einstein, justru benturan itulah yang menyelamatkan perhitungannya. Ketika hasil eksperimen Bancelin mengetuk pintu teorinya dan mengatakan ada yang tidak beres, Einstein tidak menyuruh kenyataan menyesuaikan diri dengan rumus. Ia membuka kembali rumus itu.
Kenyataan historis ini mematahkan persepsi populer bahwa penguji Einstein adalah sekelompok akademisi kaku yang gagal memahami jenius muda, sekaligus membuktikan bahwa Einstein bukanlah seorang manusia ajaib yang steril dari kesalahan matematis.
Sains tidak bekerja melalui figur genius yang sempurna tanpa cela, melainkan melalui proses pengujian, temuan kesalahan, koreksi terbuka, dan penyempurnaan gagasan secara berkelanjutan.
Di sini ada pelajaran yang sering hilang ketika kita mengagungkan seorang genius. Kita melihat Einstein dari masa depan. Karena kita tahu ia kelak menjadi Einstein, kita mudah membayangkan bahwa setiap persamaan yang disentuhnya sejak muda pasti sudah mengandung kebenaran yang sempurna.
Padahal sejarah ilmu pengetahuan tidak berjalan seperti film yang sudah selesai direkam. Pada 1905, Einstein belum tahu semua yang akan ia temukan pada 1915, termasuk teori relativitasnya. Ia sendiri masih harus berhadapan dengan data yang membantah perhitungannya.
Pelajaran utama dari disertasi 17 halaman Einstein bukanlah soal memangkas lembaran kertas, melainkan keberanian untuk fokus pada inti persoalan ilmiah. Einstein mengambil satu problem yang sangat spesifik, menentukan dimensi molekul, lalu menyelesaikannya dengan kalkulasi matematis yang presisi.
Ia tidak perlu mengumpulkan semua persoalan fisika ke dalam satu jilid hanya untuk membuktikan bahwa ia sedang melakukan penelitian.
Di sinilah letak otokritik bagi tradisi akademik kita. Mutu sebuah riset terlalu sering diukur dari parameter teknis yang paling mudah dihitung: jumlah halaman, banyaknya referensi, jumlah tabel, serta ketebalan jilid naskah. Padahal, kriteria utama karya ilmiah yang baik adalah kejernihan bernalar dan ketepatan jawaban atas persoalan yang diajukan. Angka halaman mudah dihitung. Kedalaman gagasan jauh lebih sulit.
Karenanya, disertasi Einstein bukan pelajaran tentang bagaimana menulis sedikit. Ia pelajaran tentang bagaimana membuang yang tidak perlu. Seperti seorang pemahat yang tidak membuat patung dengan menambahkan batu, melainkan dengan menyingkirkan bagian-bagian yang menghalangi bentuknya muncul.
Seorang peneliti bekerja bukan hanya dengan menambah pengetahuan, tapi juga dengan memangkas keruwetan. Dua puluh halaman yang tajam masih bisa membawa kita jauh; dua ratus halaman yang berputar-putar hanya membuat perjalanan terasa lebih panjang.
Dan ada pelajaran lain yang bahkan lebih penting, bahwa disertasi yang pendek itu pun ternyata tidak sempurna. Ada kesalahan di dalamnya. Eksperimen menemukannya. Seorang kolega memeriksa ulang. Einstein menerima koreksi dan menerbitkannya. Di situlah martabat ilmu pengetahuan sebenarnya tampak: bukan pada kesaktian seorang genius, melainkan pada kesediaannya tunduk kepada kenyataan.
Maka pertanyaan yang lebih tepat bukan, “Mengapa disertasi Einstein cuma 17 halaman?” Melainkan: berapa banyak halaman yang sebenarnya kita perlukan untuk mengatakan sesuatu yang benar-benar penting?
Pertanyaan itu barangkali lebih mengganggu. Sebab kalau kita serius menjawabnya, mungkin bukan hanya beberapa disertasi yang harus dipangkas. Mungkin sebagian kebiasaan akademik kita juga.
BERITA TERKAIT: