Ada video berdurasi hanya beberapa detik yang, entah kenapa, terasa lebih berat dari ribuan kata analisis hukum mana pun.
Seorang anak perempuan, masih duduk di bangku sekolah dasar, berdiri di tengah kerumunan orang dewasa. Ia memanggil-manggil ayahnya. Ayahnya tidak menjawab. Ayahnya tidak akan pernah menjawab lagi.
Itulah yang tersisa dari KD, seorang pria asal Singaraja, setelah subuh berdarah di Baturiti, Tabanan, Bali akhir pekan ini.
Ia diduga mencuri seekor ayam aduan.
Diduga.
Kata itu penting.
Kata itu seharusnya menjadi jarak antara tuduhan dan hukuman, antara kecurigaan dan kematian.
Namun, di tengah kerumunan yang sudah dikuasai kemarahan, kata itu kehilangan maknanya. Barangkali bukan hanya karena emosi sesaat, tetapi juga karena sesuatu yang lebih dalam telah lama terkikis: kepercayaan bahwa persoalan seperti ini akan benar-benar diselesaikan melalui jalur hukum.
Ayah yang Pulang Membawa Apa untuk Anaknya?Senator Bali, Arya Wedakarna, dalam video yang kemudian viral, mengucapkan satu kalimat yang menurut saya adalah inti dari seluruh tragedi ini: seorang ayah yang lapar, dengan anak yang menunggu di rumah, menunggu dibelikan sesuatu, menunggu dibelanjakan.
Saya tidak tahu persis apa yang ada di kepala KD malam itu.
Tidak ada yang tahu.
Dan sekarang tidak akan pernah ada yang tahu.
Karena ia tidak pernah diberi kesempatan untuk menjelaskan dirinya sendiri. Bukan di depan hakim. Bahkan bukan di depan orang-orang yang malam itu memutuskan nasibnya.
Yang saya tahu hanyalah ini.
Entah ia bersalah atau tidak, ada seorang anak kecil yang malam itu mungkin sedang menunggu ayahnya pulang. Menunggu ayahnya membawa sesuatu. Sekadar uang jajan. Sekadar beras. Sekadar apa pun yang bisa membuat esok pagi terasa sedikit lebih ringan.
Anak itu tidak tahu bahwa ayahnya tidak akan pulang membawa apa pun.
Anak itu hanya tahu bahwa ayahnya tidak akan pulang sama sekali.
Ini Bukan Bali yang Saya KenalSaya lahir dan besar di Bali.
Puluhan tahun saya hidup di tengah masyarakat yang saya kenal menjunjung tinggi Tri Hita Karana, keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam.
Bali yang saya kenal menyelesaikan sengketa melalui paruman desa, lewat musyawarah, lewat prajuru adat, bukan lewat kerumunan yang mengambil nyawa sebelum fajar.
Karena itu, ketika Arya Wedakarna berkata, "Ini bukan Hindu. Ini bukan Dharma," saya sepenuhnya sepakat.
Namun saya juga ingin mengajukan pertanyaan yang lebih jauh.
Kalau ini bukan Bali yang sesungguhnya, bagaimana Bali yang sesungguhnya bisa sampai pada titik ketika seorang ayah kehilangan nyawanya sebelum sempat membela dirinya sendiri?
Ketika Kepercayaan pada Hukum Mulai TerkikisTulisan ini bukan pembelaan terhadap dugaan pencurian.
Dan tentu bukan pembenaran terhadap aksi pengeroyokan.
Namun ada sesuatu yang perlu kita renungkan bersama, sesuatu yang menurut saya jauh lebih mengkhawatirkan daripada sekadar menyalahkan "massa yang emosi."
Di media sosial, banyak komentar yang mencerminkan rasa frustrasi terhadap penegakan hukum. Sebagian masyarakat merasa kasus-kasus pencurian kecil berulang tanpa penyelesaian yang memuaskan.
Persepsi seperti itu, benar ataupun tidak, perlahan dapat membentuk keyakinan yang berbahaya: bahwa keadilan harus dicari sendiri, karena menunggu negara terasa seperti menunggu sesuatu yang tidak kunjung datang.
Saya tidak sedang mengatakan keyakinan itu benar.
Saya hanya mengatakan bahwa keyakinan seperti itu nyata.
Dan justru karena nyata, ia jauh lebih berbahaya apabila terus dibiarkan tumbuh tanpa pernah dibicarakan secara jujur.
Pada akhirnya, ketika sebuah masyarakat mulai kehilangan kepercayaan pada sistem yang seharusnya melindungi mereka, mereka tidak berhenti mencari keadilan.
Mereka hanya berhenti mencarinya melalui cara yang benar.
Kesedihan yang Tidak Bisa Diselesaikan dengan Uang SekolahArya Wedakarna berjanji akan menanggung biaya sekolah anak-anak KD hingga sarjana.
Itu adalah langkah yang mulia.
Dan saya menghargainya sepenuh hati.
Namun mari kita juga jujur pada diri sendiri.
Biaya pendidikan tidak akan pernah menggantikan seorang ayah yang seharusnya pulang malam itu, membacakan dongeng, mengantar anaknya berangkat sekolah, menunggu hari kelulusannya, atau hadir ketika anaknya menikah kelak.
I Made Sutama, kepala desa yang menjemput sendiri jenazah KD, mengatakan sesuatu yang begitu sederhana namun begitu menghancurkan.
Melihat anak itu menangis tersedu-sedu, ia benar-benar sedih.
Saya membayangkan momen itu.
Seorang kepala desa, yang mungkin sudah berkali-kali menghadapi berbagai persoalan warganya, tetap tidak mampu menyembunyikan kesedihannya ketika melihat seorang anak kehilangan ayah dengan cara seperti itu.
Itulah wajah sesungguhnya dari tragedi ini.
Bukan seekor ayam yang hilang.
Bukan pula status hukum seseorang.
Melainkan seorang anak kecil yang esok pagi, dan mungkin ribuan pagi setelahnya, akan bangun dan menyadari ada satu kursi kosong di meja makan yang tidak akan pernah terisi lagi.
Pertanyaan yang Harus Kita Jawab BersamaKita boleh marah kepada para pelaku pengeroyokan.
Kita boleh menuntut hukuman seberat-beratnya.
Dan saya sepenuhnya mendukung langkah tegas aparat penegak hukum terhadap siapa pun yang terlibat.
Namun kemarahan itu tidak boleh berhenti di sana.
Pertanyaan yang lebih mengganggu bukanlah mengapa kerumunan itu marah.
Pertanyaannya adalah: mengapa, bagi sebagian orang, kemarahan tampak lebih menjanjikan hasil daripada proses hukum?
Mengapa sebuah desa bisa sampai pada titik ketika tindakan membunuh terasa lebih masuk akal daripada melapor?
Mengapa rasa aman dan kepercayaan terhadap hukum bisa terkikis sedemikian rupa sehingga nyawa manusia dipertaruhkan hanya karena dugaan sebuah tindak pidana?
Jika kita hanya menghukum kerumunan malam itu tanpa pernah mencoba memahami mengapa kondisi seperti itu bisa terbentuk, kita mungkin berhasil menyelesaikan satu perkara.
Tetapi belum tentu mencegah perkara berikutnya.
Untuk Anak yang Masih MenungguDi suatu tempat di Buleleng, malam ini, ada seorang anak kecil yang mungkin masih belum sepenuhnya mengerti mengapa ayahnya tidak pulang.
Ia tidak tahu soal pasal berlapis.
Ia tidak tahu soal DPD RI.
Ia tidak tahu perdebatan panjang tentang penegakan hukum atau kepercayaan masyarakat terhadap negara.
Yang ia tahu hanyalah, ayahnya pergi malam itu.
Dan tidak pernah kembali.
Jika ada satu hal yang layak kita pelajari dari tragedi ini, mungkin bukan sekadar bahwa main hakim sendiri itu salah. Itu sudah jelas.
Yang jauh lebih sulit, tetapi jauh lebih penting, adalah memastikan masyarakat tidak pernah lagi merasa bahwa jalan itu adalah satu-satunya pilihan yang tersisa.
Karena apa pun yang hilang dari kandang ayam malam itu, nilainya tidak akan pernah sebanding dengan seorang ayah yang hilang dari kehidupan anak-anaknya.
*Pendiri Hey Bali dan Bali Reporter
BERITA TERKAIT: