Bali Terlalu Sibuk Menghitung Wisatawan Lupa Menghitung Anak-Anaknya

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/giostanovlatto-5'>GIOSTANOVLATTO*</a>
OLEH: GIOSTANOVLATTO*
  • Selasa, 14 Juli 2026, 19:33 WIB
Bali Terlalu Sibuk Menghitung Wisatawan Lupa Menghitung Anak-Anaknya
Suasana tahun ajaran baru di SD Negeri 6 Bhuana Giri di Desa Bhuana Giri, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali, Selasa, 14 Juli 2026.(Dok: Kepala Sekolah SDN 6 Bhuana Giri, I Made Suartika)
DI berbagai daerah di Indonesia, pekan ini sekolah-sekolah dipenuhi wajah-wajah baru. Seragam yang masih kebesaran, tas yang masih kaku, dan orang tua yang sibuk mengabadikan hari pertama sekolah menjadi pemandangan yang berulang setiap tahun. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selalu menjadi penanda lahirnya generasi baru yang akan melanjutkan perjalanan bangsa.

Namun di Bali, ada sebuah ironi yang nyaris tenggelam oleh riuhnya musim liburan.

Di SD Negeri 6 Bhuana Giri, Karangasem, MPLS tetap dilaksanakan sebagaimana mestinya. Bedanya, tidak ada satu pun siswa baru yang mengikuti kegiatan itu. Bukan karena pandemi, bukan pula karena bencana alam. Sekolah tersebut memang sudah dua tahun berturut-turut tidak menerima murid baru. Kini, seluruh sekolah hanya dihuni empat siswa.

Empat murid.

Jumlah yang bahkan tidak cukup untuk memenuhi satu bangku panjang di banyak ruang kelas Indonesia.

Banyak orang mungkin menganggapnya sebagai persoalan administratif. Sekolah terlalu dekat dengan sekolah lain, jumlah penduduk sedikit, atau warga memilih merantau. Semua alasan itu memang benar. Tetapi justru karena semuanya benar, persoalan ini menjadi jauh lebih serius.

Ini bukan lagi cerita tentang sebuah sekolah.

Ini adalah cerita tentang arah Bali.

Selama bertahun-tahun, Bali dipuja sebagai kisah sukses pariwisata dunia. Jumlah wisatawan menjadi indikator keberhasilan. Hotel baru terus berdiri. Vila bertambah. Kafe tumbuh hampir di setiap sudut desa. Investasi mengalir deras.

Tetapi di balik semua angka yang membanggakan itu, ada statistik lain yang hampir tidak pernah masuk pidato pembangunan.

Anak-anak yang tidak lagi lahir di desa.

Keluarga muda yang memilih pergi.

Sekolah yang perlahan kehilangan murid.

Ketika sebuah sekolah tidak mendapatkan siswa baru selama dua tahun berturut-turut, itu bukan sekadar masalah pendidikan. Itu adalah gejala bahwa sebuah komunitas sedang kehilangan regenerasi.

Dan regenerasi adalah fondasi paling dasar dari sebuah peradaban.

Ironisnya, Bali hari ini justru sedang mengalami paradoks.

Pulau ini semakin ramai oleh orang yang datang.

Tetapi pada saat yang sama, beberapa desa justru semakin sepi ditinggalkan mereka yang lahir di sana.

Pariwisata memang menciptakan pekerjaan. Tetapi ia juga mendorong konsentrasi ekonomi di kawasan-kawasan tertentu. Anak muda meninggalkan desa menuju wilayah wisata. Mereka mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan dibanding bertani atau tinggal di kampung halaman.

Lama-kelamaan desa kehilangan penduduk usia produktif.

Ketika keluarga muda pergi, anak-anak ikut pergi.

Dan ketika anak-anak menghilang, sekolah menjadi bangunan yang perlahan kehilangan fungsi sosialnya.

Kita sering berbicara tentang kemacetan Bali.

Tentang sampah Bali.

Tentang overtourism.

Tetapi sangat sedikit yang berbicara mengenai desa-desa yang diam-diam kehilangan generasi penerusnya.

Lebih mengkhawatirkan lagi, kita seolah menganggap penggabungan sekolah atau regrouping sebagai solusi akhir.

Padahal regrouping hanyalah cara mengelola akibat, bukan mengatasi penyebab.

Sekolah bisa digabung.

Guru bisa dipindahkan.

Bangunan bisa ditutup.

Tetapi tidak ada kebijakan administratif yang mampu menggantikan anak-anak yang tidak lagi lahir atau tidak lagi tinggal di desa tersebut.

Pertanyaan yang semestinya diajukan bukanlah bagaimana menggabungkan sekolah.

Melainkan mengapa desa-desa mulai kehilangan anak-anaknya.

Bali selama ini dikenal karena kemampuannya menjaga tradisi lintas generasi.

Upacara diwariskan.

Bahasa diwariskan.

Kesenian diwariskan.

Nilai-nilai diwariskan.

Namun seluruh proses pewarisan itu memiliki satu syarat yang sangat sederhana.

Harus ada generasi berikutnya.

Tanpa anak-anak, warisan budaya hanya akan menjadi pertunjukan yang dipentaskan untuk wisatawan.

Ia kehilangan fungsi paling hakikinya sebagai identitas yang hidup di tengah masyarakat.

Mungkin inilah alasan mengapa kisah empat murid di Karangasem terasa jauh lebih besar daripada angka itu sendiri.

Ia bukan sekadar statistik pendidikan.

Ia adalah indikator sosial.

Alarm demografi.

Cermin pembangunan.

Dan mungkin juga pertanyaan paling penting yang perlu dijawab Bali hari ini.

Kita terus berlomba mendatangkan jutaan wisatawan.

Tetapi apakah kita memberi perhatian yang sama besarnya agar anak-anak Bali tetap lahir, tumbuh, belajar, dan memilih membangun masa depan di tanahnya sendiri?

Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah daerah tidak diukur dari berapa juta orang datang berlibur setiap tahun.

Melainkan dari berapa banyak anak yang masih datang ke sekolah setiap pagi.

Dan ketika sebuah sekolah membuka tahun ajaran baru tanpa satu pun murid baru, mungkin yang sesungguhnya sedang kehilangan arah bukan sekolah itu.

Melainkan kita semua.

*Penulis adalah pendiri Hey Bali dan Koordinator Aliansi Jurnalis Pariwisata Bali.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: ADE MULYANA

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA