Kadang kita bertanya, apakah sebagian manusia masih memiliki hati atau sudah menggantinya dengan batu cor dari proyek jalan tol.
Pertanyaan itu muncul lagi ketika video penyiksaan terhadap Asisten Rumah Tangga (ART) asal Indonesia di Johor Bahru, Malaysia, beredar luas pada 13 Juni 2026.
Video itu bukan sekadar rekaman kekerasan. Itu adalah film horor kehidupan nyata. Bedanya, tidak ada hantu. Yang ada justru manusia yang bertingkah lebih menyeramkan dari hantu.
Peristiwa itu sebenarnya terjadi pada 26 Juli 2025, hampir sebelas bulan lalu. Lokasinya di sebuah rumah di kawasan Taman Johor dekat Tampoi atau Skudai, Johor Bahru. Ada pula yang menyebut kawasan Taman Daya.
Di rumah itulah empat orang dewasa, dua pasangan suami istri, menjadikan seorang perempuan Indonesia sebagai sasaran amarah kolektif yang lebih cocok disebut pesta kebiadaban.
Alasannya? Korban dituduh memukul anak majikan. Pelaku mengaku memiliki bukti CCTV. Namun entah sejak kapan tuduhan berubah menjadi tiket resmi untuk menggelar pertandingan tinju empat lawan satu.
Korban diinterogasi, lalu dipukuli bergilir-gilir. Seolah-olah ruang tamu berubah menjadi arena gladiator, sementara seorang perempuan tak berdaya dijadikan samsak hidup.
Empat klip video yang viral memperlihatkan pemandangan yang membuat darah mendidih. Korban duduk di sofa. Dua pria dan dua wanita bergantian menampar, meninju, memukul, memaki, dan menghina.
Korban menangis, ketakutan, memohon belas kasihan. Namun belas kasihan tampaknya sudah lama diusir dari rumah itu. Yang tersisa hanya ego, amarah, dan rasa superior yang menjijikkan.
Lebih mengerikan lagi, terdapat indikasi, bukan hanya satu korban yang mengalami nasib demikian. Polisi menduga ada tiga PRT perempuan asal Indonesia berusia sekitar 20-an tahun yang menjadi korban penganiayaan di rumah yang sama.
Jika benar, maka rumah itu bukan lagi rumah. Ia lebih mirip pabrik penderitaan yang beroperasi di balik tembok dan pagar.
Pelakunya empat orang. Dua kakak-beradik perempuan dan suami masing-masing. Usia mereka antara 30 hingga 34 tahun.
Mereka ditangkap polisi Johor pada 13 Juni 2026 pukul 19.30 di rumah tersebut dalam operasi gabungan CID Johor dan polisi Johor Bahru Utara.
Hasil pemeriksaan menunjukkan mereka negatif dadah dan tidak memiliki rekam jejak jenayah sebelumnya.
Ironis sekali. Ternyata seseorang tidak perlu menjadi pecandu narkoba atau kriminal kambuhan untuk melakukan tindakan yang membuat publik muak.
Polisi kemudian menyita berbagai barang bukti, termasuk telepon genggam pelaku, pakaian yang digunakan saat kejadian, kamera CCTV, dan paspor milik dua PRT.
Sementara itu para korban diketahui bekerja secara non-prosedural tanpa jalur resmi agen. Setelah kejadian mereka melarikan diri. Polisi masih berupaya mencari dan mengambil keterangan dari seluruh korban.
KJRI Johor Bahru bergerak cepat. Korban dijemput, dilindungi di lokasi sementara yang aman, didampingi secara hukum, dan difasilitasi dalam proses pelaporan.
Bahkan ada korban yang dijemput dari Kuala Lumpur. Setidaknya di tengah gelapnya kisah ini masih ada secercah cahaya yang menunjukkan, mereka tidak dibiarkan sendirian menghadapi mimpi buruk tersebut.
Para pelaku kini disiasat berdasarkan Section 323 Penal Code tentang cedera sukarela, Section 506 tentang ancaman jenayah, Section 354 tentang serangan dengan niat menghina kesopanan, Section 233 Communications and Multimedia Act, serta Section 12(1)(f) Passports Act.
Namun publik Indonesia dan Malaysia menginginkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar daftar pasal. Mereka menginginkan keadilan yang benar-benar terasa.
Karena di balik setiap tamparan dalam video itu ada martabat manusia yang diinjak. Di balik setiap pukulan ada air mata seorang perempuan yang meninggalkan tanah air demi mencari nafkah.
Di balik setiap hinaan ada pertanyaan yang menggema keras, sampai kapan pekerja migran diperlakukan seperti barang murah yang boleh dipakai, dimaki, lalu disakiti sesuka hati?
Jika peradaban diukur dari cara manusia memperlakukan yang paling lemah, maka video ini adalah alarm yang memekakkan telinga. Alarm, masih ada sudut-sudut dunia tempat kemanusiaan dipukuli hingga babak belur, sementara kita semua dipaksa menjadi saksi.
Aksi pembantaian ini mirip Jerman menghancurkan Curacao 7-1. Untung tak terjadi laga Belanda vs Jepang berakhir 2-2.
Rosadi JamaniKetua Satupena Kalbar
BERITA TERKAIT: