MBG Dikritik dan Dicintai

Sabtu, 28 Februari 2026, 04:59 WIB
MBG Dikritik dan Dicintai
Ilustrasi. (Foto: RMOLJateng)
PROGRAM Makan Bergizi Geratis merupakan salah satu program prioritas Bapak Presiden prabowo. Program ini dicanangkan semenjak Bapak Presiden Prabowo kampanye sebagai calon Presiden Republik Indonesia. Presiden Prabowo dalam penilaian publik, telah banyak melakukan penelitian dan kajian terhadap kasus pertumbuhan pada generasi anak bangsa, dimana dalam prosesnya dianggap banyak mengalami berbagai hambatan, diantaranya stunting ketidakcukupan asupan gizi), ketidakberdayaan (powerless), unskilled, dan lainya. Sebagai bentuk pertanggungjawaban pemimpin atas problem bangsa dan menjaga konsistensi seorang pemimpin, program MBG  diwujudkan sebagai bentuk jawaban masalah tersebut.
 
Bagi Presiden ketidakcukupan gizi tersebut, dianggap hambatan atau barrier bagi pertumbuhan dan perkembangan bangsa dan negara Indonesia saat ini, jika problem tersebut tidak ditangani secara serius atau tidak ada desain program unggulan sebagai solver-nya, maka yang terjadi Indonesia emas 2045  hanyalah sebagai jargon atau dogma imajiner  di khalayak umum saja.
 
Selain banyaknya reasoning untuk melatar belakangi kebijakan ini ditetapkan, namun yang tumbuh dan tercapture oleh publik hanyalah  Indonesia dalam darurat gizi atau penyakit stunting. Padahal banyak sebab atau latar belakang  program Makan Bergizi Gratis ini untuk direalisasikan.
 
Misalnya, meminjam analisis Profesor Youval Noah Harari, seorang pemikir  dari Universitas Oxford dalam bukunya yang berjudul Homo Sapiens dan Homo Deus e brief history of tomorrow beliau mengatakan bahwa ”Di sisi lain, “kemajuan” kita dapat menemukannya di berbagai artikel, jurnal ilmiah, rangkuman buku ilmiah atau sejarah, dan lain sebagainya. Jika dulu manusia terancam mati karena perang dan bencana alam, kini manusia terancam mati karena banyak dikarenakan penyakit diabetes, sebuah penyakit dengan proporsi cukup besar sebagai penyebab kematian di dunia.”
 
Ini menunjukan bahwa suply makanan itu penting. Jika keteraturan asupan makanan tidak di pola dengan baik maka berakibat pada penyakit diabetes maupun yang lainnya. Disini pentingnya sistem food control dijalankan dengan baik.
 
Contoh; bisa kita bayangkan jajanan apa saja yang dibeli oleh anak-anak indonesia khususnya ketika di sekolahan, kemungkinan besar yang terbeli pasti ciki-ciki, gorengan frozen, minuman saset. Yang semua itu komposisi bahan makanannya tidak cukup bisa dipertanggungjawabkan kesehatannya, apalagi nilai gizinya pasti zero. 

Selain itu jajanan tersebut berkonsekuensi logis pada tumbuhnya penyakit-penyakit diabetes dan kanker maupun lainnya. Maka menjadi benar apa yang dikatakan Prof Hariri bahwa kematian masal bukan dikarenakan adanya perang atau bencana saja, tapi yang lebih dahsyat kematian dikarenakan pada pola makan yang tidak teratur dan asupan makanan yang tidak bergizi, sehingga diabetes dan lainya mudah bersarang di tubuh manusia.
 
Selain jajanan yang tidak memiliki kandungan gizi yang cukup, yang juga ikut menyumbang penyakit diabetes dan obesitas adalah Food Capitalism. Keberadaannya sangat mendominasi pasar nusantara, jika kita hitung sederhana saja mungkin ratus ribu bahkan jutaan Franchise Fast Food diantaranya KFC, McDonald’s, PIZZA, Burger KING dan lainnya yang bercokol di sudut-sudut kota di Indonesia, selain itu minuman soft drink juga cukup mengkooptasi minuman di negeri ini, seperti Coca-Cola, Sprite, Fanta, Pepsi, Pocari Sweat, dan lainnya. Ini semua menjadi asupan dan tegukan sehari-hari bagi anak bangsa kita. Terus bagaimana neurosis anak bangsa kita menjadi cerdas, smart maupun jenius kalau yang diasup tidak memiliki gizi yang berkualitas.
 
Mazhab fast food dan soft drink ini seolah menjadi makhluk bebas yang selalu hadir menghantui kesehatan bangsa ini, pelan-pelan habitus bangsa ini digiring menjadi manusia konsumtif yang berdampak pada pelemahan etik dan neurosisnya serta tubuh yang tak energik lagi.
 
Di era disruption atau era digital ini, bangsa ini telah mengalami bonus demografi hampir 60-70 persen dari jumlah total penduduk Indonesia dan puncaknya pada tahun 2045. Jika bangsa ini tidak mempersiapkan dirinya dengan baik tentang membludaknya jumlah usia produktif, terutama SDM dan lapangan kerja yang cukup, maka akan terjadi peningkatan pengangguran, beban sosial yang tinggi dan ujungnya adalah  Uncontrol Crime.
 
Jika asumsi jumlah penduduk Indonesia 285 juta maka 70 persennya adalah 199 juta. Jadi Jumlah penduduk yang memiliki rentang usia 15-45 tahun (usia produktif ) adalah sejumlah 199 juta orang dan 70 persen dari 199 juta adalah 139.3 juta penduduk. Jika jumlah 139,3 juta orang tersebut tidak memiliki keahlian (expert) di bidang apapun alias under skill, low skill atau pun unskilled. Bisa kita bayangkan nasib negara kita 20 tahun yang akan datang. Bukan kesejahteraan atau peningkatan income perkapita yang kita dapat, tapi yang ada akan terjadi keadaan sebaliknya yaitu sosial destruktif, dikarenakan angka penganguran tinggi  dan kemiskinan bertambah besar, ekonomi melemah serta kriminalisasi di mana-mana.
 
Dalam rangka menyiapkan keadaan itu semua mungkin ada benarnya pemerintahan Presiden Prabowo ini membuat program unggulan berupa Makan Bergizi Gratis.
 
Program MBG tidak hanya berbicara Angka Kecukupan Gizi saja tapi jauh lebih dari itu MBG telah memberikan dampak cukup signifikan baik dibidang pendidikan, ekonomi dan sosial. selain meningkatkan kecerdasan otak anak bangsa dengan terpenuhinya asupan gizi. MBG memberikan dampak pertumbuhan ekonomi mikro yang cukup luar biasa, jika kita hitung sederhana setiap dapur membutuhkan 45 relawan ditambah 5 pegawai; ahli gizi, akuntan, asisten lapangan, admin media, teknisi dapur. Sehingga bisa disimpulkan 1 dapur menyerap minimal 50 pekerja, jumlah dapur yang terkonfirmasi seluruh indonesia 24.000 kali 50 pegawai. 

Artinya dalam kurun waktu kurang dari 1 tahun MBG sudah bisa melakukan (empowerment) pemberdayaan 1.200.000 secara konkret dan sustainable, disamping pemberdayaan lainnya. Selain itu juga, dapur MBG secara riil dan konkret memberi multiplayer efek pada para pelaku umkm yang ada di sekitar dapur. Mulai dari UMKM Roti, petelur, peternak ayam, pembudidaya ikan, tahu-tempe, toko kelontong dan lain-lainya.
 
Di samping UMKM, para petani tanaman pangan, buah-buahan, sayur-sayuran, rempah-rempah sampai petani tambak. juga merasakan dampak positif dari kehadiran program MBG. Dulunya pendapatan petani pas-pasan karena ketidak jelasan pasar. Namun kini petani sungguh merasa bahagia karena hasil panennya diterima pasar secara cepat (fast moving) dengan harga cukup marketabel, oleh suplai ke dapur MBG. Karena demandnya yang cukup tinggi para petani sekarang berinovasi dalam bercocok tanam. Sekarang petani bercocok tanam tidak hanya mengandalkan cara konvensional  saja, namun kini petani juga melakukan inovasi diantaranya integrated farming, agroforest ada juga urban farming baik dengan hidro dan akuoponik serta polyback, hal itu dilakukan petani agar dapat pemasukan tambahan dengan mensuplai kebutuhan-kebutuhan dapur MBG.
 
Jika kita mau fair, sebetulnya kehadiran MBG secara umum banyak memberikan dampak positif pada masyarakat dan bangsa negeri ini. Selain itu manfaat kecukupan gizi sendiri adalah, pertama meningkatkan fungsi otak dan mental, pertumbuhan dan regenerasi sel, meningkatkan kesehatan fisik dan energi. Mencegah penyakit kronis. Meningkatkan daya tahan tubuh dan lainya. Ini merupakan investasi jangka panjang negara demi kehidupan anak bangsa yang lebih berkualitas, unggul, dan berdaya kedepan nanti.
 
Tidak cukup mendesain kualitas SDM unggul, berkualitas, dan berdaya melalui asupan bergizi. Presiden Prabowo juga fokus meningkatkan SDM anak bangsa dengan tidak mengurangi anggaran pendidikan, namun post anggaran pendidikan juga ditingkatkan, tidak berhenti disitu pemerintah juga membangun sejumlah sekolah unggulan yang bertaraf internasional seperti Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda. Ini semua agar anak bangsa kita memiliki high skill, high quality dan ekspert di berbagai bidang sehingga ekspektasi tahun 2024 sebagai negara yang maju benar-benar bisa terwujud.
 
Benar bahwa program MBG ada kekurangan-kekurangan dalam proses realisasinya, misalnya ada oknum yang mencari kesempatan dengan mencari keuntungan lebih banyak dari pengadaan bahan baku makanan, sehingga makanan yang disajikan kepada penerima manfaat tidak memenuhi angka kecukupan gizi, bahkan ada juga yang jauh dari pantas untuk didistribusi. Program MBG ini baru seumur jagung, maka menjadi mafhum kalau masih ada pembenahan-pembenahan dalam prosesnya, untuk bisa 100 persen menemukan bentuk idealnya tentu belum, karena masih relatif awal program ini direalisasikan, dan Insya Allah akan lebih baik dan terstandar semua. Namun poinnya adalah MBG lebih banyak menghadirkan kemanfaatan ketimbang mudharatnya. rmol news logo article

Qomaruddin SE. M.Kesos 
Sekretaris DPC PD Lamongan


BERIKUTNYA >

Halal Maunya Trump

Konten iklan di bawah berasal dari platform DISQUS, tidak terkait dengan pembuatan konten ini

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA