Menurut pengamat politik Adi Prayitno, kondisi tersebut berbeda dengan menteri yang berasal dari partai politik pendukung pemerintah. Pergantian terhadap menteri yang memiliki kendaraan politik dinilai membutuhkan pertimbangan lebih matang karena berkaitan dengan stabilitas dan dukungan politik terhadap pemerintahan.
“Purbaya paling aman dicopot karena tidak mewakili kepentingan partai politik mana pun. Tapi kalau Purbaya menjadi salah satu menteri yang mewakili partai yang saat ini berada di koalisi pemerintahan, tentu treatment-nya agak hati-hati karena menyangkut soal stabilitas, menyangkut dukungan politik terhadap pemerintah,” kata Adi lewat kanal Youtube miliknya, Selasa, 15 September 2026.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa menteri dari partai politik tetap dipertahankan meski terkadang menghadapi persoalan komunikasi publik atau mendapat sorotan.
“Tidak mengherankan ketika menteri dari partai politik sekalipun ada gonjang-ganjing komunikasi publiknya tidak bagus, kenapa tidak di-reshuffle hingga hari ini? Tentu salah satu faktornya adalah menjaga stabilitas dan dukungan politik terhadap pemerintah hari ini,” ujarnya.
Sementara Purbaya, kata Adi, tidak memiliki afiliasi maupun kekuatan politik yang menjadi penyangga posisinya di pemerintahan. Karena itu, pergantian dirinya sebagai Menkeu menjadi lebih mudah dilakukan.
“Purbaya dinilai tidak memiliki afiliasi dan punya backup politik secara kepercayaan. Jadi wajar jika terjadi reshuffle terkesan mendadak, tak ada asap tak ada api, tiba-tiba posisinya sebagai Menteri Keuangan itu diganti,” pungkas Adi.
BERITA TERKAIT: