Ekonom Prof Ferry Latuhihin menilai, kondisi tersebut menunjukkan pergantian Menteri Keuangan belum mampu memberikan sentimen positif bagi pasar.
Ferry mengatakan, ada kemungkinan pelemahan rupiah berkaitan dengan berakhirnya posisi Purbaya sebagai Menteri Keuangan. Saat masih menjabat, kata dia, Purbaya kemungkinan memberikan tekanan kuat kepada Bank Indonesia agar terus melakukan intervensi di pasar valuta asing.
“Ada kemungkinan pada waktu Purbaya masih menjadi Menteri Keuangan, BI mendapat tekanan yang sangat dahsyat dari Purbaya untuk terus melakukan intervensi agar menjaga dolar tidak lari ke Rp18.000,” ujarnya di kanal Youtube Forum Keadilan TV, Selasa, 22 September 2026.
Ferry menilai tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari dalam negeri. Faktor eksternal juga turut memperberat posisi rupiah, terutama kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Di sisi lain, eskalasi geopolitik di Timur Tengah kembali mendorong harga minyak hingga menembus 100 dolar AS per barel. Kondisi ini dinilai semakin meningkatkan kebutuhan dolar Indonesia karena ketergantungan impor minyak.
“Kita masih mengimpor minyak cukup besar, sekitar 45 persen kebutuhan minyak kita masih impor. Dengan demikian kita akan memerlukan dolar,” katanya.
Ferry bahkan membuka kemungkinan rupiah semakin tertekan hingga akhir tahun. Menurutnya, level Rp20.000 per dolar AS bukan sesuatu yang mustahil apabila tekanan eksternal terus berlanjut. Ia menambahkan, tekanan terhadap rupiah juga tercermin dari arus modal asing yang perlahan meninggalkan pasar Indonesia.
“Perlahan-lahan asing kabur dari Indonesia dan akan terus kabur karena tidak percaya kepada ekonomi kita,” ujarnya.
Menurut Ferry, pergantian Purbaya dengan Suahasil juga tidak mendapatkan sambutan positif dari pasar. Hal itu terlihat dari pergerakan pasar yang masih berada dalam tekanan.
“Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya ke Suahasil tidak disambut meriah oleh market. Bahkan market itu merah terus,” katanya.
Ferry menilai, pasar tidak sekadar menunggu pergantian nama di kursi Menteri Keuangan, tetapi menginginkan adanya perubahan kebijakan yang dianggap mampu memperkuat fundamental fiskal.
“Market ini tidak membedakan antara Purbaya dan Suahasil. Ketika beliau mengatakan pergantian menteri bukan berarti perubahan kebijakan, market tentu menanggapinya, ‘Ya sama saja, lu sama dia’,” tuturnya.
Karena itu, Ferry menyebut pasar kini menunggu keberanian Suahasil untuk mengevaluasi sejumlah program pemerintah yang membutuhkan anggaran besar.
BERITA TERKAIT: