Wacana tersebut disampaikan Prabowo saat memimpin rapat terbatas (ratas) penanganan bencana secara hibrid di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 7 September 2026.
Di hadapan Kepala Badan Geologi Lana Saria, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, serta sejumlah menteri, Prabowo menilai diperlukan koordinasi yang lebih erat dalam memantau berbagai potensi bencana, termasuk mempertimbangkan integrasi Badan Geologi dan BMKG.
"Kepala Badan Geologi nanti saya kira kerja sama lebih erat dengan yang lain untuk monitor ini. Nanti kita pikirkan apakah Badan Geologi itu harus diintegrasikan bersama BMKG. Tapi ya nanti kita bahas itu," ujarnya, dikutip Selasa, 4 September 2026.
Menurut Prabowo, penguatan koordinasi antarlembaga menjadi penting mengingat Indonesia menghadapi beragam ancaman bencana, mulai dari gempa bumi di Flores, aktivitas Gunung Anak Krakatau, hingga kebakaran hutan dan asap yang masih terjadi di sejumlah wilayah.
Kondisi tersebut, kata Prabowo, tidak terlepas dari posisi Indonesia yang berada di kawasan lingkaran api atau Ring of Fire. Karena itu, pemerintah perlu meningkatkan kesiapsiagaan sekaligus memperkuat investasi dalam mitigasi bencana.
"Kita harus siap menghadapi keadaan seperti ini, setiap saat. Berarti mungkin ini pembelajaran juga bagi kita pemerintahan yang saya pimpin alokasi anggaran untuk mitigasi bencana harus kita tambah secara signifikan," tegasnya.
Selain menata koordinasi dan kelembagaan, Prabowo juga meminta pemerintah menyusun masterplan penanggulangan bencana secara menyeluruh dan masif.
Penguatan peralatan turut menjadi perhatian, termasuk pesawat modifikasi cuaca, helikopter, hingga drone yang mampu mengangkut dan menjatuhkan air ke lokasi kebakaran.
"Jadi kita persiapan mengatasi mitigasi itu jangan menunggu kejadian, jauh sebelumnya kita siapkan," tegas Prabowo.
BERITA TERKAIT: