Pandangan tersebut disampaikan Badan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi Muhammadiyah (BPPGM) sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan pemenuhan gizi yang dikelola Muhammadiyah.
Hal tersebut disampaikan Badan Pembina Harian (BPH) Badan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi Muhammadiyah (BPPGM), Siti Noordjannah Djohantini, dalam acara Uji Sertifikasi Kompetensi Juru Masak Makan Bergizi Muhammadiyah di SPPG UNISA Yogyakarta.
“Ini menjadi sangat penting dalam rangka mengampu SPPG Muhammadiyah secara nasional. Kita harus memiliki juru masak atau chef yang benar-benar ahli, karena Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah terbiasa bekerja dengan ilmu yang diamalkan secara profesional,” ujar Noordjannah dikutip Minggu, 6 September 2026.
Noordjannah menjelaskan pelaksanaan sertifikasi juru masak merupakan bagian dari sistem pengelolaan SPPG Muhammadiyah yang dibangun secara serius dan tidak sederhana. Dalam prosesnya, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah mengintegrasikan berbagai sumber daya, termasuk menggandeng perguruan tinggi yang memiliki kompetensi di bidang gizi.
Salah satunya adalah Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) yang memiliki program studi gizi dengan akreditasi unggul. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah memastikan pengelolaan program pemenuhan gizi berjalan berdasarkan standar keilmuan dan profesionalitas.
“Sertifikasi jurumasak ini diharapkan dapat mencetak chef profesional tersertifikasi dari setiap SPPG. Jadi melalui program ini kami menekankan bahwa ini bukan untuk kepentingan sendiri. Maka, cara dakwah seperti inilah yang harus terus dijaga,” jelasnya.
Seiring dengan berkembangnya SPPG Muhammadiyah secara nasional, Noordjannah menilai penguatan sumber daya manusia menjadi salah satu aspek yang tidak dapat dipisahkan dari profesionalisasi tata kelola.
Karena itu, selain membangun manajemen yang profesional, Muhammadiyah memastikan bahwa kerja sama yang dilakukan dengan berbagai Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dilakukan secara serius dan memperhatikan asas profesionalitas.
Noordjannah juga mengapresiasi antusiasme para peserta sertifikasi yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Ia berharap semangat tersebut terus menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pengelolaan SPPG Muhammadiyah.
Di sisi lain, ia mengingatkan seluruh jajaran manajemen SPPG Muhammadiyah untuk senantiasa mematuhi regulasi yang telah ditetapkan. Kepatuhan terhadap regulasi, menurutnya, harus berjalan beriringan dengan tata kelola internal Muhammadiyah yang menjunjung tinggi akuntabilitas dan amanah.
“Selain seluruh regulasi, kita punya tata kelola internal yang sangat ketat yang selama ini menjadi DNA Muhammadiyah, yakni akuntabilitas, bekerja atas dasar amanah, ikhlas, dan berkhidmat. Nah, itu yang tidak bisa ditawar lagi!” pungkasnya.
BERITA TERKAIT: