Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan penanganan karhutla di Kalbar terus dilakukan melalui operasi darat dan udara. Berdasarkan data penanganan, dari estimasi 802,17 hektare lahan yang terbakar, Satgas Darat berhasil memadamkan 429,90 hektare.
“Satgas Darat berhasil memadamkan yang luas. Sisa kebakaran hari ini kalau tidak ada kebakaran yang baru dipadamkan oleh Satgas Darat sebetulnya itu sudah bisa selesai,” ujar Suharyanto dalam rakor penanganan karhutla di Pontianak, dikutip Minggu, 6 September 2026.
Menurut Suharyanto, kondisi lahan gambut menjadi salah satu tantangan dalam penanganan karhutla. Operasi water bombing dari udara dinilai tidak selalu efektif untuk kebakaran di lahan gambut, sehingga kekuatan pasukan darat tetap menjadi tumpuan utama dalam penanganan di lapangan.
“Sehingga tetap tumpuannya adalah di Satgas Darat untuk operasi penanganan karhutla ini. Satgas Darat ini memang menjadi tumpuan utama,” katanya.
Menhut mengatakan pasukan darat menjadi salah satu kekuatan utama pemerintah dalam menghadapi karhutla di Kalbar. Ia meminta pengerahan personel dilakukan dengan pemetaan yang lebih detail berdasarkan sebaran hotspot dan kebutuhan masing-masing wilayah.
“So far ini yang paling efektif nih pasukan darat nih. Oleh karena itu, nanti mohon di-mapping secara lebih detail,” katanya.
Pemetaan tersebut mencakup kebutuhan personel dan peralatan di setiap wilayah. Menhut Raja Antoni mencontohkan Ketapang dan Kubu Raya perlu dipetakan berdasarkan jumlah hotspot dan kebutuhan pasukan, sehingga personel maupun peralatan dapat digeser ke lokasi yang membutuhkan.
“Kurang nggak orangnya? Alatnya kurang nggak di sana? Kalau orangnya ternyata lebih, berarti kita pindahkan ke tempat lain yang memang masih kurang,” ujarnya.
Menhut menegaskan operasi darat akan terus berjalan bersamaan dengan upaya lain, termasuk OMC dan water bombin.
“Pasukan darat, ini andalan kita ya, sambil menunggu OMC atau hujan beneran ketika nanti musim hujan datang,” tandasnya.
BERITA TERKAIT: