Di tengah dimulainya forum permusyawaratan tertinggi NU tersebut, Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin menitipkan pesan agar proses pemilihan kepemimpinan berlangsung tertib, demokratis, jujur, dan tetap berpegang pada akhlak ulama.
Pesan tersebut disampaikan Kiai Ma’ruf setelah melakukan ziarah ke makam KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama, di kawasan Tambakrejo, Tambakberas, Jombang.
Kiai Ma’ruf menilai momentum Muktamar tidak hanya berkaitan dengan pergantian atau penetapan kepemimpinan organisasi. Lebih dari itu, proses permusyawaratan harus menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi, marwah, serta nilai-nilai yang selama ini diwariskan para pendiri NU.
Menurut dia, seluruh peserta Muktamar memiliki hak untuk menentukan pilihan masing-masing. Karena itu, kebebasan peserta dalam menentukan pemimpin harus tetap dijaga tanpa tekanan maupun kepentingan yang dapat mengganggu proses demokratisasi di tubuh organisasi.
Kiai Ma’ruf berharap para muktamirin mampu menggunakan pertimbangan hati nurani ketika menentukan pilihan. Sosok yang dipilih diharapkan benar-benar merupakan pemimpin yang dikehendaki warga Nahdliyin dan mampu membawa NU ke arah yang lebih baik.
“Menghasilkan pemimpin yang memang diharapkan,” ujar Kiai Ma’ruf.
Ia menekankan, pilihan tersebut juga perlu mempertimbangkan tuntunan para ulama serta akhlak yang menjadi karakter penting dalam tradisi Nahdlatul Ulama.
“Sesuai dengan hati nurani, sesuai dengan tuntunan para ulama,” lanjutnya.
Kiai Ma’ruf menginginkan seluruh proses Muktamar berlangsung tanpa persoalan yang dapat mencederai kehormatan organisasi. Menurutnya, perbedaan pilihan dalam forum sebesar Muktamar merupakan hal yang wajar, tetapi harus tetap dikelola dalam suasana persaudaraan.
“Harapannya Muktamar ini berjalan dengan baik, tidak ada apa-apa,” pungkasnya.

*
Kontributor Blora
BERITA TERKAIT: