Anggota Komisi IX DPR Netty Prasetiyani mengatakan, tren penurunan jumlah pengangguran berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Mei 2026 patut diapresiasi sebagai sinyal membaiknya kondisi perekonomian dan pasar kerja.
"Penurunan angka pengangguran merupakan sinyal positif bahwa perekonomian dan pasar kerja terus bergerak ke arah yang lebih baik. Capaian ini patut diapresiasi sebagai hasil kerja bersama," ujar Netty, Jumat, 7 Agustus 2026.
Meski demikian, Legislator Fraksi PKS itu menegaskan keberhasilan pembangunan ketenagakerjaan tidak cukup diukur dari berkurangnya jumlah pengangguran.
Pemerintah, kata dia, harus memastikan lapangan kerja yang tercipta benar-benar layak dan memberikan kepastian bagi pekerja.
"Kita tidak hanya membutuhkan lebih banyak lapangan kerja, tetapi juga pekerjaan yang layak, produktif, memiliki kepastian penghasilan, serta memberikan pelindungan sosial bagi para pekerja," tegasnya.
Menurut Netty, masih besarnya jumlah pekerja di sektor informal menjadi tantangan yang perlu segera diatasi. Karena itu, transformasi menuju pekerjaan formal harus terus dipercepat agar pekerja memperoleh jaminan sosial dan perlindungan kerja.
"Transformasi menuju pekerjaan formal perlu terus didorong. Pekerja informal harus memperoleh akses jaminan sosial, termasuk BPJS Ketenagakerjaan, sehingga memiliki jaring pengaman saat menghadapi risiko kecelakaan kerja hingga usia lanjut," paparnya.
Ia juga mengingatkan tingginya angka pengangguran usia muda masih menjadi pekerjaan rumah. Untuk mengatasinya, pemerintah didorong memperkuat keterhubungan antara dunia pendidikan, pelatihan vokasi, dan kebutuhan industri agar kompetensi lulusan sesuai dengan pasar kerja.
Berdasarkan data BPS per Mei 2026, jumlah pengangguran di Indonesia tercatat sebanyak 7,22 juta orang atau turun sekitar 24 ribu orang dibandingkan Februari 2026.
BERITA TERKAIT: