Anggota Bawaslu RI, Puadi menjelaskan, sebanyak 409 regu dari 291 Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia mendaftar dalam Kompetisi Debat Penegakan Hukum Pemilu VI Antar Perguruan Tinggi se-Indonesia Tahun 2026 (Kompetisi Debat PHP VI).
Puadi menjelaskan jumlah tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang penyelenggaraan kompetisi yang digelar Bawaslu sejak pertama kali dilaksanakan pada tahun 2019, yang menunjukkan meningkatnya perhatian dan keterlibatan mahasiswa terhadap isu kepemiluan, pengawasan pemilu, serta penegakan hukum demokrasi.
Dia membandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya yang diikuti 311 regu, yang berarti jumlah peserta tahun ini meningkat hampir 32 persen dan menjadi capaian tertinggi dalam sejarah Kompetisi Debat Penegakan Hukum Pemilu.
"Rekor 409 regu bukan hanya menunjukkan tingginya minat mahasiswa terhadap kompetisi debat, tetapi juga mencerminkan meningkatnya kepedulian generasi muda terhadap isu demokrasi, pengawasan pemilu, dan penegakan hukum pemilu. Ini menjadi modal sosial yang sangat penting bagi masa depan demokrasi Indonesia,” ujar Puadi dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Senin, 27 Juli 2026.
Menurut Puadi, tingginya partisipasi mahasiswa menunjukkan bahwa kampus masih menjadi ruang strategis bagi lahirnya gagasan, kritik, dan inovasi dalam memperkuat sistem demokrasi.
"Kompetisi debat tidak hanya menjadi arena adu argumentasi, tetapi juga ruang pembelajaran untuk memahami tantangan penyelenggaraan pemilu yang semakin kompleks," tuturnya.
Lebih lanjut, dia berharap ajang tahunan Bawaslu RI ini dapat menjadi ruang perbaikan untuk pelaksanaan Pemilu 2029 mendatang, khususnya terkait dengan penegakan hukum pemilu yang menjadi salah satu tugas Bawaslu.
"Kami melihat 409 regu ini sebagai representasi ribuan mahasiswa yang ingin terlibat dalam diskursus demokrasi. Mereka tidak hanya datang untuk berkompetisi, tetapi juga untuk menawarkan gagasan dan solusi bagi penguatan lembaga pengawas pemilu serta sistem penegakan hukum pemilu di Indonesia,” urainya.
"Kami berharap kompetisi ini tidak hanya menghasilkan juara, tetapi juga melahirkan generasi muda yang memiliki komitmen terhadap demokrasi dan integritas pemilu. Bawaslu membutuhkan lebih banyak anak muda yang kritis, berintegritas, dan berani terlibat dalam mengawal proses demokrasi,” demikian Puadi menutup.
BERITA TERKAIT: