Pernyataan itu disampaikan Purbaya usai menghadiri agenda di Kompleks Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 20 Juli 2026.
Menurut Purbaya, hingga kini belum ada pembahasan serius mengenai besaran maupun mekanisme pemangkasan anggaran kedua institusi tersebut.
Meski demikian, pemerintah tetap membuka ruang evaluasi apabila stabilitas fiskal mengharuskannya.
"Belum. Tapi kita begini, hitungan anggaran pos-nya besar. Kalau emang mungkin defisit kita terganggu ya kita pangkas, tapi rasanya enggak, masih jauh dari sana. Jadi kita masih cukup," ujar Purbaya.
Presiden Prabowo Subianto sempat melontarkan candaan soal kemungkinan mengurangi anggaran pertahanan dan kepolisian demi mempercepat penghapusan kemiskinan.
Pernyataan itu disampaikan saat memimpin panen raya TNI di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat, 17 Juli 2026, di hadapan jajaran TNI dan Polri.
Dalam kesempatan itu, Prabowo menegaskan pemerintah akan terus melakukan efisiensi belanja negara agar semakin banyak anggaran yang dapat dialihkan ke program-program produktif, terutama yang berkaitan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pengentasan kemiskinan sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045-2050.
Di tengah pidatonya, Prabowo bahkan meminta kesediaan TNI dan Polri apabila anggaran kedua institusi harus dikurangi demi kepentingan rakyat.
"Kita akan bikin efisien. Apabila perlu anggaran pertahanan, anggaran polisi kita kurangi untuk menghilangkan kemiskinan. Rela TNI? Rela polisi? Rela ya? Ikhlas?" tanya Prabowo, yang langsung dijawab, "Ikhlas," oleh para perwira TNI dan Polri yang hadir.
Meski disampaikan dalam suasana santai, Presiden menegaskan kekuatan pertahanan sebuah negara pada hakikatnya bertumpu pada rakyat yang sejahtera.
Karena itu, ia meminta TNI dan Polri terus berada di tengah masyarakat, membantu petani, nelayan, serta mengatasi berbagai kesulitan rakyat sebagai bagian dari pengabdian kepada bangsa.
BERITA TERKAIT: