Hal itu disampaikan Savic Ali dalam Halaqah Pra Muktamar NU ke-35 bertajuk Masa Depan Nahdlatul Ulama: Kepemimpinan Abad Kedua di Pondok Pesantren Luhur Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu, 18 Juli 2026.
Savic menilai keberagaman pemikiran merupakan kekuatan utama NU yang membuat organisasi tersebut mampu bertahan selama hampir satu abad.
"Saya kira semua gagasan harus diakomodasi. Itu bagian yang membuat NU bertahan sampai hari ini karena semua gagasan didengarkan, diakomodasi, dipahami perspektifnya dan sudut pandangnya," ujarnya.
Ia menegaskan, perbedaan pandangan tidak boleh dijadikan alasan untuk menyingkirkan suatu kelompok atau membatasi ruang diskusi.
"Bukan kemudian gagasan yang mungkin tidak cocok sama PBNU kemudian dilokalisir, dikecilkan, apalagi diberangus. Saya kira itu bukan tradisi kita," tegas Savic.
Dalam kesempatan itu, Savic juga mengapresiasi inisiatif kalangan muda nahdliyin yang menggelar Halaqah Pra Muktamar. Menurutnya, banyak warga NU, terutama generasi muda, memiliki perhatian besar terhadap masa depan organisasi, tetapi belum memiliki ruang yang cukup untuk menyalurkan gagasannya.
Ia mengatakan forum-forum di luar struktur organisasi perlu terus didorong agar berbagai pemikiran strategis dari kalangan nahdliyin dapat dikonsolidasikan dan disampaikan kepada pengurus.
"Banyak sekali orang yang selalu mikir NU tetapi karena bukan pengurus, gagasannya mungkin tidak sampai menjadi program organisasi. Karena itu forum seperti ini penting untuk mengonsolidasikan gagasan," ujarnya.
Savic berharap hasil pembahasan Halaqah Pra Muktamar dapat diteruskan kepada tim materi Muktamar NU ke-35 sebagai bahan penyusunan agenda dan rekomendasi organisasi untuk lima tahun ke depan.
BERITA TERKAIT: