Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah melihat setidaknya ada tiga dampak strategis dari pembangunan koridor Trans-Sumatra dan Trans-Kalimantan.
Pertama, konsolidasi ekonomi nasional. Selama ini pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat terkonsentrasi di Jawa. Pembangunan jaringan transportasi di Sumatra dan Kalimantan dapat menjadi instrumen untuk menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru.
“Kalau barang dari sentra produksi bisa bergerak cepat menuju pelabuhan, kawasan industri dan pasar, maka nilai tambah tidak harus selalu terkonsentrasi di Jawa,” kata Amir, dikutip Selasa 11 Agustus 2026.
Menurutnya, kawasan seperti Sumatra dan Kalimantan memiliki basis komoditas yang sangat besar. Sumatra memiliki perkebunan, pertanian, energi dan berbagai komoditas strategis. Kalimantan memiliki sumber daya mineral, energi, perkebunan dan kawasan industri yang terus berkembang.
Dengan konektivitas yang lebih baik, rantai pasok dapat dibangun lebih efisien.
Kedua, penguatan ketahanan ekonomi dan logistik nasional. Amir mengatakan ketahanan logistik semakin penting dalam situasi geopolitik dunia yang tidak menentu.
Gangguan rantai pasok global, perang dagang, konflik geopolitik, perubahan harga energi dan gangguan jalur perdagangan internasional dapat berdampak langsung terhadap Indonesia.
Karena itu, menurutnya, Indonesia membutuhkan jaringan distribusi domestik yang kuat.
“Dalam perspektif intelijen, ketahanan nasional bukan hanya soal pertahanan militer. Ketahanan pangan, energi, transportasi dan logistik juga merupakan bagian dari
national resilience,” kata Amir.
Ia menilai jaringan transportasi lintas wilayah dapat menjadi salah satu instrumen untuk mengurangi ketergantungan terhadap pola distribusi tertentu.
Ketiga, penguatan posisi Indonesia di kawasan. Amir melihat konektivitas di Sumatra dan Kalimantan memiliki dimensi geopolitik yang lebih luas.
Sumatra berhadapan langsung dengan jalur perdagangan strategis di kawasan Asia Tenggara. Sementara Kalimantan berada di kawasan yang berdekatan dengan Malaysia dan Brunei serta memiliki posisi penting dalam perkembangan ekonomi Borneo.
“Indonesia jangan hanya menjadi pasar dari konektivitas regional. Indonesia harus menjadi salah satu pusat konektivitas kawasan,” kata Amir.
BERITA TERKAIT: