Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Muhammad Qodari menegaskan, momen kebersamaan para tokoh nasional tersebut tidak ditunggangi oleh agenda politik praktis atau kepentingan terselubung.
Pemandangan adem tersebut sangat selaras dengan tema Hari Lahir Pancasila tahun ini, yakni “Pancasila Pemersatu Bangsa dan Pondasi Perdamaian Dunia”. Menurutnya, momen ini sekaligus menjadi bukti bahwa perbedaan garis politik tidak akan pernah menghalangi komitmen bersama dalam menjaga keutuhan NKRI.
“Pemandangan tersebut merupakan manifestasi dari tema Harlah Pancasila 2026: Pancasila pemersatu bangsa dan pondasi perdamaian dunia,” ujar Qodari dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 2 Juni 2026.
Hubungan antara Prabowo dan Megawati memiliki rekam jejak sejarah yang sangat panjang dalam panggung politik nasional. Dinamika politik boleh saja membuat keduanya sempat berada di kubu yang berseberangan, namun ikatan kebangsaan mereka tidak pernah luntur.
“Selain itu, Presiden Prabowo dan Bu Mega memiliki sejarah hubungan yang panjang. Ada kalanya bersama dan berkompetisi, namun tetap satu dalam menjaga Pancasila serta persatuan dan kesatuan bangsa,” jelasnya.
Menanggapi berbagai spekulasi dan analisis liar yang berkembang di publik mengenai adanya 'deal-deal' politik di balik kedekatan tersebut, Qodari langsung menepisnya. Ia memastikan kedua tokoh bangsa itu bertemu murni dalam kapasitas kenegaraan.
“Sepengetahuan saya tidak ada (agenda politik khusus). Masing-masing sedang menjalankan tugas dan peran,” tegas Qodari.
Ia menambahkan, saat ini Presiden Prabowo sedang fokus penuh menjalankan roda pemerintahan lewat berbagai program pembangunan demi kesejahteraan rakyat. Di sisi lain, Megawati bersama PDIP juga tetap konsisten menjalankan peran politiknya.
“Presiden Prabowo sebagai pemerintah fokus pada menjalankan program pembangunan dan melindungi serta memajukan kesejahteraan umum. Sebaliknya Bu Mega dan PDIP memilih berada di luar pemerintahan,” tutupnya.
BERITA TERKAIT: