Demikian pendapat Direktur ABC Riset & Consulting Erizal, dikutip Selasa 2 Juni 2026.
Pertama, tidak mudah mengubah citra partai yang sudah ada ketimbang membuat citra partai baru. Bahkan, tidak saja tidak mudah, tapi juga rentan terjadi konflik di antara orang lama dan orang baru.
Kedua, meski diisi oleh orang-orang baru, tapi yang namanya kebaruan itu sendiri sulit diperoleh. Kalau tak ada kebaruan, maka lompatan besar juga akan sulit dilakukan. Makanya, elektabilitas PSI stagnan.
"Ketiga, terbukti sudah bahwa pengumuman Jokowi bekerja mati-matian buat memenangkan PSI, sama sekali tak wujud dalam elektabilitas secara massif," kata Erizal.
Keempat, hampir setahun Jokowi ber-PSI, belum bisa menyatukan relawan ke dalam struktur inti PSI. Bahkan, sempat terjadi silang pendapat pula antara relawan dan PSI. Penyatuan itu terlihat tak mudah.
Kelima, keputusan Jokowi memenangkan PSI sempat membuat relawan seperti Projo galau. Bahkan, sempat pula hendak pindah secara massal ke Gerindra, tapi ternyata belum kesampaian juga.
"Intinya lebih mudah terlihat membesarkan partai yang sama sekali baru ketimbang partai yang sudah ada seperti PSI, yang citranya sudah terlalu kuat sejak didirikan dulu," pungkas Erizal.
BERITA TERKAIT: