Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan tekanan tersebut terjadi di tengah ketidakpastian sentimen global maupun domestik.
"Kalau melihat kondisi seperti saat ini, kami melihat bahwa Rupiah masih di level Rp17.000-an, hopefully masih di bawah Rp17.500 per Dolar AS. Harapannya kembali lagi ini tidak sampai ekspektasi liar itu terjadi," kata Josua, dikutip Sabtu 23 Mei 2026.
Menurut Josua, jika dalam kondisi normal tanpa ada sentimen yang membebani, Rupiah seharusnya bisa menguat di bawah Rp17.000 per Dolar AS.
"Kalau kita melihat secara teori, tadi nilai tukar riil efektifnya (real effective exchange rate) rupiah dalam kondisi normal itu mestinya kita di bawah Rp17.000 per Dolar AS," jelasnya.
Namun, Rupiah, kata Josua masih akan tertekan oleh sentimen rebalancing MSCI dan ekspor komoditas satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia atau PT DSI.
“Kita mempertimbangkan risiko-risiko global, risiko-risiko yang ada saat ini, dan juga respon kebijakan yang sudah dikeluarkan oleh Bank Indonesia,” tuturnya.
BERITA TERKAIT: