Menurut Misbakhun, ucapan Presiden bukan dimaksudkan untuk menyepelekan dampak kenaikan Dolar terhadap masyarakat, melainkan sebagai upaya menjaga ketenangan publik agar tidak terjebak kepanikan.
“Apa yang disampaikan oleh Pak Presiden itu adalah upaya untuk menenangkan masyarakat. Jangan dibaca terlalu eksplisit,” kata Misbakhun di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin, 18 Mei 2026.
Ia menilai pesan Presiden harus dipahami dalam konteks menjaga stabilitas psikologis masyarakat di tengah situasi ekonomi yang sedang tertekan.
“Tujuannya mau menenangkan untuk menjaga stabilitas, ketenangan psikologis masyarakat,” ujarnya.
Misbakhun menegaskan, Presiden memahami bahwa pelemahan Dolar tetap berdampak terhadap masyarakat, termasuk lewat harga barang impor dan kebutuhan pokok.
“Pak Presiden tahu bahwa dampak Dolar itu dirasakan oleh semua masyarakat,” jelasnya.
Namun, ia menilai pernyataan Presiden jangan langsung dibenturkan dengan penjelasan teknis ekonomi secara kaku. Sebab, menurutnya, pesan tersebut lebih merupakan komunikasi seorang kepala negara kepada rakyatnya agar tetap tenang menghadapi situasi.
“Presiden menenangkan rakyatnya itu hal yang sangat wajar. Presiden menyejukkan hati rakyatnya, itu tugasnya Presiden,” ucap Misbakhun.
Untuk diketahui, pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.600 pada Jumat, 15 Mei 2026 mulai memunculkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga barang dan daya beli masyarakat.
Namun, Prabowo menilai kondisi ketahanan ekonomi Indonesia masih terjaga dengan baik bahkan relatif stabil, terutama pada sektor pangan dan energi.
"Rupiah begini, Rupiah begini, apa? Eh, Dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai Dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya. Banyak negara panik, Indonesia masih oke," ujar Prabowo.
BERITA TERKAIT: