Negara Jangan Cuek terhadap Nasib Peternak Ayam Lokal

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widodo-bogiarto-1'>WIDODO BOGIARTO</a>
LAPORAN: WIDODO BOGIARTO
  • Selasa, 28 April 2026, 14:45 WIB
Negara Jangan Cuek terhadap Nasib Peternak Ayam Lokal
Anggota DPR Fraksi PDIP I Ketut Suwendra. (Foto: Istimewa)
rmol news logo Keberpihakan pemerintah terhadap peternak ayam lokal dinilai semakin menurun.

Anggota DPR Fraksi PDIP I Ketut Suwendra menilai, di tengah capaian produksi nasional yang tinggi, nasib peternak rakyat justru semakin tertekan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi telur ayam ras petelur Indonesia mencapai sekitar 6,34 juta ton pada 2024, tertinggi dalam dua dekade terakhir. 

Bahkan, kata Suwendra, proyeksi pemerintah menunjukkan produksi masih akan terus meningkat hingga 6,52 juta ton pada 2025, dengan kondisi nasional yang relatif surplus dibanding kebutuhan konsumsi. 

Namun ironisnya, menurut Suwendra, angka produksi yang besar ini tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan peternak kecil. 

“Produksi kita tinggi, bahkan surplus. Tapi siapa yang menikmati? Jangan sampai hanya korporasi besar. Peternak rakyat justru makin terhimpit,” kata Suwendra, kepada wartawan, Selasa 28 April 2026.

Ia menyoroti fakta bahwa struktur industri perunggasan nasional masih didominasi oleh pelaku besar, sementara peternak mandiri menghadapi berbagai tekanan serius, mulai dari tingginya harga pakan, fluktuasi harga jual, hingga lemahnya posisi tawar di pasar.

Data Kementerian Pertanian juga menunjukkan bahwa produksi daging ayam nasional terus meningkat dengan tren konsumsi yang naik rata-rata lebih dari 7 persen per tahun dalam satu dekade terakhir, menandakan pasar yang besar namun tidak sepenuhnya berpihak pada peternak kecil.  

Suwendra juga menyoroti kekhawatiran atas rencana masuknya investor besar asing, yang akan mengembangkan usaha ayam petelur di Indonesia. Ia menegaskan, tanpa regulasi ketat, hal ini berpotensi memperparah ketimpangan. 

Soal rencana Kadin menggandeng investor asal Tiongkok untuk memenuhi kebutuhan telur (MBG), Suwendra melihat kebijakan ini berpotensi menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan UMKM peternak ayam petelur di Indonesia. 

“Kita tidak anti investasi. Tapi kalau investor raksasa masuk tanpa pembatasan, peternak lokal akan kalah telak," kata Suwendra. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA