Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, menilai langkah Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad yang mempertemukan Megawati dengan Prabowo sebagai bukti konkret bahwa elite politik masih menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok.
Menurut Amir, pertemuan dua tokoh sentral bangsa itu bukan sekadar silaturahmi politik biasa, melainkan sebuah langkah strategis yang sarat makna di tengah dinamika global yang tidak menentu.
"Peran Dasco sebagai “arsitek pertemuan” menunjukkan adanya kesadaran geopolitik yang matang dalam membaca situasi nasional dan internasional," kata Amir, dikutip Sabtu 21 Maret 2026.
Amir menyoroti bahwa langkah Dasco tidak bisa dilepaskan dari posisinya sebagai aktor kunci di lingkar kekuasaan. Sebagai politisi yang dikenal memiliki kemampuan komunikasi lintas spektrum, Dasco dinilai mampu menembus sekat-sekat politik yang selama ini kerap menjadi penghambat rekonsiliasi nasional.
Dalam perspektif intelijen, lanjut Amir, pertemuan tersebut bisa dibaca sebagai bagian dari “operasi stabilisasi politik” yang dilakukan secara halus namun efektif. Tidak ada deklarasi besar, tidak ada panggung berlebihan, tetapi dampaknya signifikan dalam meredam potensi polarisasi.
“Dasco membaca momentum. Ketika dunia sedang tidak stabil, Indonesia tidak boleh terpecah. Maka, yang dilakukan adalah menyatukan simbol-simbol kekuatan politik nasional,” kata Amir.
Pertemuan antara Megawati dan Prabowo sendiri memiliki dimensi historis dan politik yang panjang. Keduanya merepresentasikan dua kutub besar dalam lanskap politik Indonesia: nasionalisme ideologis dan nasionalisme strategis.
Amir menilai bahwa mempertemukan kedua tokoh ini bukan pekerjaan sederhana. Dibutuhkan kepercayaan, komunikasi intensif, dan pemahaman mendalam terhadap dinamika psikologis politik masing-masing pihak.
“Ini bukan hanya soal politik praktis. Ini menyangkut ego, sejarah, dan kepentingan besar," pungkas Amir.
BERITA TERKAIT: