Menurutnya, langkah tersebut mengirim sinyal bahwa kebijakan luar negeri dan kebijakan ekonomi Indonesia tidak bersifat personal ataupun sektoral, melainkan merupakan bagian dari kesinambungan lintas generasi pemerintahan.
“Ada kesinambungan, ada institutional memory, dan ada rasa tanggung jawab bersama terhadap arah bangsa,” ujar Nurul Fatta kepada RMOL, Rabu, 4 Maret 2026.
Ia menilai, pengalaman para pemimpin sebelumnya menjadi bagian dari memori institusional yang penting dalam menjaga konsistensi arah kebijakan negara, terutama di tengah tekanan global yang semakin kompleks.
Pada akhirnya, kata dia, konsolidasi tersebut ingin menunjukkan bahwa stabilitas politik pemerintahan saat ini tetap terjaga.
“Konsolidasi semacam ini memperlihatkan bahwa, di tengah dinamika internasional, stabilitas politik Indonesia tetap terjaga dan kohesivitas elite masih cukup kuat,” pungkasnya.
Sejumlah tokoh bangsa tampak hadir, di antaranya Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Hadir pula mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Boediono, dan Ma’ruf Amin, serta para mantan Menteri Luar Negeri dan pimpinan partai politik.
BERITA TERKAIT: