Ini Alasan Gus Ipul Layak Pimpin PBNU

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/adityo-nugroho-1'>ADITYO NUGROHO</a>
LAPORAN: ADITYO NUGROHO
  • Kamis, 19 Februari 2026, 03:59 WIB
Ini Alasan Gus Ipul Layak Pimpin PBNU
Saifullah Yusuf atau Gus Ipul. (Foto: Humas Kemensos)
rmol news logo Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul dinilai layak memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031.

Hal itu disampaikan pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon dan Alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, KH Imam Jazuli, Lc, MA, menjelang Muktamar ke-35 NU.

Menurut KH Imam Jazuli, NU di abad kedua menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya, mulai dari dinamika geopolitik global, transformasi digital, hingga penguatan ekonomi umat.

Karena itu, NU membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memiliki akar pesantren yang kuat, tetapi juga kecakapan manajerial dan pengalaman birokrasi yang mumpuni.

“NU membutuhkan pemimpin transformatif. Sosok yang memahami tradisi Aswaja secara mendalam, tetapi juga mampu mengelola organisasi modern dengan tata kelola yang profesional. Dalam konteks itu, Gus Ipul memiliki paket yang lengkap,” ujar KH Imam Jazuli dikutip Kantor Berita RMOLJatim, Rabu, 18 Februari 2026.

Menurut dia, Gus Ipul memilik kemampuan manajerial dan pengalaman birokrasi. Berbeda dengan struktur organisasi tradisional, NU saat ini mengelola aset yang masif, mulai dari lembaga pendidikan hingga fasilitas kesehatan.
 
“Pengalaman Gus Ipul sebagai Menteri, Wakil Gubernur Jawa Timur dua periode, hingga Wali Kota Pasuruan, memberikan bekal tata kelola (governance) yang profesional. Ia tahu cara menggerakkan roda organisasi secara efisien dan akuntabel,” jelas pengurus PBNU Periode 2010-2015 itu.

Sambungnya, Gus Ipul memiliki kemampuan unik untuk berkomunikasi dengan para Kiai Sepuh (Mustasyar) sekaligus merangkul kaum milenial dan Gen-Z di tubuh NU. Sebagai mantan Ketua Umum GP Ansor, Gus Ipul memahami psikologi gerakan pemuda, namun tetap menjunjung tinggi nilai tawadhu’ kepada para guru dan ulama.

“Kekuatan kultural ini juga memungkinkannya menjembatani kiai-kiai di jajaran Syuriyah dengan pengurus struktural di Tanfidziyah, menciptakan harmoni yang diperlukan dalam pengambilan keputusan tertinggi,” terangnya.

Masih kata Kiai Imanm, Gus Ipul memiliki jaringan lintas sektoral yang luas. Kepemimpinan NU ke depan membutuhkan akses luas ke tingkat nasional maupun internasional. 

“Gus Ipul memiliki kedekatan dengan berbagai elemen bangsa: pemerintah, pengusaha, hingga aktivis lintas agama. Jaringan ini krusial untuk memperkuat posisi tawar NU dalam kebijakan publik dan diplomasi kemanusiaan,” jelasnya lagi.

Terkait, visi kemandirian ekonomi jam'iyah termasuk menjadi nilai lebih Gus Ipul  dalam membawa tantangan besar NU.

“Dengan latar belakangnya, ia diprediksi mampu mengorkestrasi potensi ekonomi NU yang selama ini masih tercecer menjadi kekuatan korporasi sosial yang solid,” ucapnya.

Kiai Imam lantas menilai komitmen Gus Ipul terhadap moderasi beragama (wasathiyah) di tengah arus polarisasi ideologi menjadi hal penting dalam memimpin NU ke depan.

“Ia memahami betul bagaimana menerjemahkan konsep Islam Nusantara ke dalam aksi nyata yang dapat diterima oleh masyarakat luas tanpa menghilangkan substansi nilai-nilai Aswaja. NU tidak hanya butuh sosok yang alim secara keilmuan, tapi juga cekatan dalam pengabdian (khidmah) dan paham peta politik serta ekonomi global,” pungkasnya. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA