Presiden Direktur PT Saranacentral Bajatama Tbk, Handaja Susanto, mengatakan agresivitas ekspor baja dari China tidak lepas dari dukungan pemerintah negara tersebut kepada eksportirnya.
“Baja dari China itu disubsidi oleh pemerintahnya. Jadi ketika mereka mengekspor produk keluar dari China, pemerintah memberikan insentif kepada eksportir,” ujar Handaja dalam tayangan di
CNBC Indonesia, dikutip Rabu 11 Maret 2026.
Menurutnya, kebijakan tersebut membuat produsen baja China sangat agresif membanjiri pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Handaja mengungkapkan bahwa dominasi produk baja China di Indonesia sudah sangat besar.
“Kalau kita lihat data pasar, sekitar 55 persen pasar domestik Indonesia diisi oleh produk dari China. Itu memang fakta,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa harga murah menjadi faktor utama produk tersebut diminati pasar. Meski demikian, tidak semua produk yang masuk memenuhi standar yang berlaku di Indonesia.
“Produk mereka relatif murah dan kualitasnya juga lumayan. Walaupun banyak yang sebenarnya tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), tapi karena harganya murah tetap banyak dibeli di pasar Indonesia,” jelasnya.
Menghadapi kondisi tersebut, pelaku industri berharap pemerintah mengambil langkah lebih tegas untuk melindungi industri baja dalam negeri.
Handaja menilai penerapan standar mutu menjadi langkah pertama yang harus diperketat.
“Penerapan SNI harus dijalankan secara benar dan ketat. Ini penting untuk mencegah produk yang tidak memenuhi standar masuk ke pasar Indonesia,” ujarnya.
Selain itu, ia juga mendorong pemerintah mempertimbangkan kembali kebijakan proteksi seperti safeguard atau anti-dumping terhadap produk baja impor.
Menurutnya, kebijakan serupa pernah diterapkan pada industri baja lapis aluminium pada periode 2014-2017 dan terbukti memberikan dampak signifikan.
“Pada periode itu, kapasitas produksi kami bisa meningkat hingga 100 persen. Menurut saya kebijakan seperti itu perlu kembali dipertimbangkan oleh pemerintah,” kata Handaja.
Meski kinerja perusahaan relatif stabil sejak 2023 hingga 2025, Handaja mengakui profit perusahaan mengalami tekanan.
“Ada dua faktor utama. Pertama banjir impor baja dari China. Kedua pada 2025 terjadi penurunan anggaran pembangunan dari pemerintah Indonesia,” ujarnya.
Kedua faktor tersebut membuat profitabilitas perusahaan tidak mencapai target yang diharapkan, meskipun kondisi arus kas masih terjaga.
“Dari sisi cash flow perusahaan tetap pruden dan tidak ada masalah berarti,” katanya.
Handaja menegaskan bahwa gempuran produk impor berdampak langsung pada operasional industri baja nasional.
“Pertama, kapasitas produksi tidak bisa dimanfaatkan secara penuh karena pasar sudah dipenuhi barang impor. Kedua, dari sisi harga jual kami juga tertekan karena tidak bisa menjual terlalu jauh di atas harga produk impor,” jelasnya.
Kombinasi dua tekanan tersebut akhirnya mempengaruhi profitabilitas perusahaan.
Untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat, perusahaan melakukan berbagai strategi, baik melalui jalur industri maupun internal perusahaan.
“Melalui asosiasi kami terus berdiskusi dengan pemerintah agar ada kebijakan yang melindungi industri baja dalam negeri,” ujar Handaja.
Di sisi lain, perusahaan juga berupaya meningkatkan pemanfaatan kapasitas produksi.
“Tahun lalu kapasitas kami baru sekitar 50-60 persen, dan target kami adalah bisa meningkat hingga 100 persen,” katanya.
Selain itu, perusahaan juga melakukan ekspansi ke produk hilir dengan memproduksi atap berbahan baja lapis seng-aluminium.
“Dengan strategi ini kami berharap bisa menyerap lebih banyak produksi baja kami sendiri di sektor hilir,” kata Handaja.
BERITA TERKAIT: