“Budaya individualistik yang sudah muncul sekitar tahun ‘90-an ketika modernisasi berkembang, sekarang makin parah dengan adanya media sosial. Jangankan dengan tetangganya, dengan kakaknya saja di rumah belum tentu peduli," kata Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq saat konvensi nasional VIII SPK Indonesia di Bandung, Jumat, 10 Oktober 2025.
Wamen Fajar lantas menyinggung Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK) yang sudah memiliki sistem atau metode dalam membangun karakter kuat, membangun resiliensi, dan tanggung jawab sosial.
Fajar mengajak Perkumpulan SPK untuk bisa mengimbaskan praktik-praktik baik ke sekolah lain yang ada di sekitarnya.
“SPK bisa menjadi semacam pusat penyebaran praktik baik. Baik secara inovasi, pembelajaran, kepemimpinan sekolah, dan juga teknologi pendidikan,” tutur Wamen.
Wamen berharap para murid yang dididik di SPK bisa tumbuh menjadi manusia Indonesia seutuhnya dengan kesadaran warga global yang tetap berpijak pada nilai-nilai dasar bangsa.
“
Think globally, act locally. Bagaimana anak-anak kita punya wawasan global, tetapi kakinya tetap berpijak pada Pancasila. Tidak kehilangan jati dirinya. Inilah salah satu tantangan bagaimana SPK betul-betul tumbuh menjadi lembaga pendidikan yang inklusif," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: