“(Pemilu) Ini nantinya akan jadi kontestasi yang lebih sehat, karena yang terpilih benar benar
qualified, bukan pencitraan. Membanggakan secara nasional dan internasional,†ujar Peneliti Sosial dan Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Siti Zuhro, kepada wartawan, Selasa (15/11).
Terlebih, pada pemilu mendatang, mayoritas pemilih adalah dari kalangan milenial yang lebih kritis dan terukur.
“Bukan hanya seperti diberikan cek kosong, tanpa visi dan misi. Kalau tidak ada, ya tidak menarik. Dan tidak boleh lagi yang menonjol hal-hal yang sifatnya
gimmick-gimmick, apalagi hujatan,†imbuhnya.
Disinggung mengenai adanya program dari partai politik yang ditawarkan ke masyarakat seperti PATEN yang diluncurkan KIB, lalu program kesejahteraan petani oleh PKB, juga Stabilitas Pangan oleh Gerindra, menurut Siti Zuhro, adanya program tersebut menunjukkan bahwa partai politik siap jadi pemimpin.
“Visi dan misi, program, adalah iming-iming bahwa dia sudah siap menjadi pemimpin,†jelasnya.
Ia menambahkan, dengan kompleksitas masalah yang tengah dihadapi, seperti perlambatan ekonomi dunia dab masih dalam kondisi pandemi Covid, Indonesia memang membutuhkan pemimpin yang tangguh.
“Ini menjadi catatan, dengan kompleksitas yang seperti itu, kesiapan dari pemimpin seperti apa sehingga mereka bisa menunjukkan nantinya siap untuk dikompetisikan,†demikian Zuhro.
BERITA TERKAIT: