Dalam agenda UN Global Compact Leaders Summit yang digelar Kamsi (2/6), Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa perubahan perlu dilakukan melalui kolaborasi para pemangku kepentingan.
“Saya mendukung pentingnya memberdayakan sektor swasta untuk mengambil tindakan dan menginspirasi para pemimpin masa depan menanamkan keberlanjutan dalam pekerjaan mereka,†kata Menko Airlangga dalam keterangan tertulisnya, Jumat (3/6).
Forum UN Global Compact penting karena merupakan wadah pertemuan pemangku kepentingan dari Perserikatan Bangsa Bangsa, pemerintah, pelaku bisnis, dan masyarakat. Forum ini juga telah menghasilkan komitmen untuk menyinergikan pengembangan
Belt Road Initiative (BRI) dan
Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.
BRI dan SDGs 2030 telah mendorong seluruh lapisan masyarakat berkolaborasi untuk menggaungkan upaya global dalam mengatasi tantangan lingkungan, iklim, dan pengurangan kemiskinan.
Dua tahun terakhir, UN Global Compact BRI untuk SDGs telah menjalankan agenda penting di beberapa bidang, yakni infrastruktur kesehatan, lingkungan, serta keuangan hijau dan ekonomi. Semua agenda tersebut sejalan dengan semangat Presidensi G20 Indonesia yang mengusung tema “
Recover Together, Recover Strongerâ€.
Indonesia sendiri telah mencanangkan target nol emisi gas rumah kaca pada tahun 2060. Target ini dapat dicapai lebih awal dengan dukungan internasional melalui mekanisme
blended finance untuk meningkatkan investasi dari sektor swasta dengan pendanaan publik dan filantropi secara strategis.
Airlangga melanjutkan, Presiden Joko Widodo telah mengundang para mitra untuk bergabung meluncurkan
global blended finance alliance dalam G20 di Bali untuk meningkatkan pengembangan kapasitas, penelitian kebijakan, dan
action labs.
"Kami mengundang negara, pemodal, organisasi filantropi, dan mitra trisektor untuk berkolaborasi bersama di modal sektor swasta untuk memecahkan tantangan iklim, kesehatan, dan mencapai SDGs,†tutup Ketua Umum Partai Golkar ini.
BERITA TERKAIT: