Dubai kini terasa seperti kota yang lupa cara bernapas. Ia masih berdiri, megah, berkilau, penuh kaca yang memantulkan cahaya seolah-olah dunia ini baik-baik saja.
Dari kejauhan, Dubai tetap seperti mimpi yang dijual mahal kepada siapa pun yang pernah percaya, kekayaan bisa dibangun di atas pasir.
Namun semakin dekat kita menatapnya, semakin terasa sesuatu yang hilang. Bukan gedungnya, bukan lampunya, tapi denyut hidupnya.
Jendela-jendela yang dulu menyala kini redup, bukan karena listrik padam, melainkan karena manusia perlahan menghilang.
Kota impian itu tidak runtuh dengan suara ledakan, ia membusuk dalam diam, berubah pelan-pelan menjadi kota hantu.
Ada ironi yang terlalu pahit untuk ditelan. Kota yang dibangun untuk orang kaya kini ditinggalkan oleh mereka sendiri.
Vila-vila jutaan dolar berdiri dengan papan “dijual” seperti batu nisan bagi ambisi yang terlalu tinggi.
Rekening bank yang dulu gemuk kini mengering diam-diam. Seperti danau yang kehilangan sumber air.
Mereka yang selama ini memegang kendali arah dunia, para miliarder, investor, pemilik perusahaan besar, pergi tanpa suara. Tidak ada sirene, tidak ada kepanikan.
Hanya kekosongan yang tumbuh perlahan, seperti retakan kecil yang tak terlihat namun pasti akan memecahkan kaca. Kota ini tidak ditinggalkan dalam kemarahan, melainkan dalam keheningan yang lebih menakutkan.
Sementara itu, mereka yang tersisa dipaksa bertahan dalam absurditas. Bayangkan hidup dalam ilusi kelas atas, lalu suatu hari pemilik rumah mengetuk pintu dan menaikkan sewa hingga 40 persen dalam semalam.
Bukan karena fasilitas bertambah, bukan karena kualitas hidup meningkat, tapi karena mereka bisa.
Di Dubai, keserakahan diberi nama lain, pertumbuhan. Kelas menengah, yang seharusnya menjadi tulang punggung kota, justru diperas hingga kering.
Hidup bukan lagi tentang menetap, melainkan sekadar menyewa keberadaan sementara, seperti menumpang di dunia yang tidak pernah benar-benar menerima mereka.
Namun itu baru gejala ringan dari penyakit yang lebih dalam. Gelombang eksodus orang super kaya adalah gempa sesungguhnya.
Mereka tidak pergi karena benci, tetapi karena kalkulasi dingin. Tahun 2022, lebih dari 4.000 jutawan datang ke Uni Emirat Arab, namun angka itu bukan cinta, itu strategi.
Ketika pajak korporasi 9 persen mulai diberlakukan pada Juni 2023, sesuatu yang tampak kecil berubah menjadi alarm keras bagi mereka yang hidup dari efisiensi.
Nol pajak adalah janji suci, dan ketika janji itu retak, kepercayaan runtuh seperti istana pasir yang tersapu ombak pertama.
Dubai dulu menjual tiga pilar, yakni pajak nol, keamanan absolut, dan peluang tanpa batas.
Kini satu per satu mulai goyah. Ketegangan geopolitik di kawasan membuat rasa aman berubah menjadi taruhan.
Biaya asuransi risiko politik melonjak, dan bagi para taipan, kehilangan tidur masih bisa ditoleransi, tapi kehilangan aset adalah mimpi buruk yang tak bisa dinegosiasikan.
Maka mereka pergi ke Singapura, ke Arab Saudi, ke pulau-pulau Eropa, mencari tempat yang lebih stabil, lebih dingin, lebih pasti.
Dubai yang dulu dianggap oasis kini hanya terasa seperti halte mewah yang siap ditinggalkan kapan saja.
Yang paling mengerikan bukanlah kepergian itu sendiri, melainkan alasan di baliknya.
Kota ini tidak kehilangan uang terlebih dahulu, ia kehilangan kepercayaan. Tingkat hunian kantor kelas A di beberapa area baru turun ke level mengkhawatirkan.
Permohonan pemindahan lisensi bisnis ke zona ekonomi lain naik 25 persen hanya dalam setengah tahun. Ini bukan sekadar penyesuaian pasar, ini adalah suara kaki yang memilih pergi.
Ketika manusia-manusia terbaik meninggalkan sistem, yang runtuh bukan hanya ekonomi, tapi jiwanya.
Dubai terlihat indah, tapi kosong. Cantik, tapi tanpa makna. Seperti perangkat mahal yang memukau di luar, namun rapuh di dalam.
Sebuah kota yang terlalu sibuk memanjakan dompet hingga lupa memelihara manusia. Ktika manusia pergi, yang tersisa hanyalah beton, kaca, dan gema langkah kaki yang semakin jarang terdengar.
Di balik semua itu, ada bayangan yang lebih besar, lebih dingin, lebih mencekam, Amerika.
Apa yang terjadi di Dubai bukan sekadar kisah lokal, melainkan cermin yang dipercepat. Harga rumah di kota-kota besar Amerika telah melonjak dua kali lipat dalam kurang dari satu dekade.
Lebih dari 60 persen anak muda tidak mampu membeli rumah di tempat mereka bekerja. Sekitar 70 persen hidup dari gaji ke gaji tanpa tabungan berarti. Mereka berlari di eskalator yang bergerak berlawanan arah, semakin cepat berusaha, semakin sulit bertahan.
Sementara itu, orang kaya melakukan apa yang selalu mereka lakukan, pindah. Permohonan warga Amerika untuk paspor kedua atau residensi di Eropa melonjak 300 persen dalam tiga tahun terakhir.
Karena pada akhirnya, mereka tidak setia pada negara, mereka setia pada keamanan aset.
Ketika utang publik Amerika melampaui 34 triliun dolar AS, pertanyaan mulai muncul, pelan tapi pasti, apakah ini benar-benar stabil, atau hanya ilusi yang lebih besar dari Dubai?
Dubai belum runtuh. Tidak ada kehancuran dramatis, tidak ada kepanikan massal. Tapi sesuatu yang jauh lebih berbahaya sedang terjadi, keheningan.
Keheningan dari uang yang pergi, dari pikiran cerdas yang menghilang, dari kepercayaan yang menguap. Ketika kepercayaan pergi, kota sebesar apa pun hanyalah cangkang kosong.
Pada akhirnya, Dubai Kota Impian Menuju Kota Hantu bukanlah sekadar judul, melainkan peringatan.
Ketika mereka yang paling kaya, paling cerdas, dan paling punya pilihan memilih pergi, pertanyaannya bukan lagi apakah kota ini akan hidup kembali, tetapi apakah ia pernah benar-benar hidup sejak awal.
Mungkin, di suatu malam yang terlalu sunyi, kita akan menyadari, kota impian itu tidak pernah runtuh, ia hanya ditinggalkan, perlahan, sampai yang tersisa hanyalah bayangan dari kejayaannya sendiri.
Rosadi JamaniKetua Satupena Kalbar
BERITA TERKAIT: