Tjokro memang pantas dikenang. Pemikirannya pantas dirayakan. Tokoh pendiri bangsa itu merupakan guru dari tiga ‘pendekar’ pendiri republik: Semaun, Soekarno dan Kartosuwiryo. Semangat perlawanan Tjokro terhadap kolonialisme dinilai masih relevan untuk diaktualisasikan kaum milenial di era milenium ini.
“Pak Tjokro adalah figur pemimpin yang rela melepaskan gelar kebangsawanan demi merasakan denyut nadi rakyat kecil dengan bekerja sebagai buruh panggul di pelabuhan Semarang,†kata Azwar Muhammad, Koordinator Pergerakan Tjokro Muda, yang menjadi sohibul bait haul.
Wakil Ketua Umum DPP PRIMA (Partai Rakyat Adil Makmur) Maruf Asli Bakti yang ikiut hadir dalam acara itu mengatakan, perkembangan pemikiran murid-murid Tjokro yang mengarah pada jalan ideologi yang berbeda-beda membuktikan bahwa kemajemukan kultur dan karakter politik sudah bersemayam lama di tengah masyarakat Indonesia.
“Tjokro mampu menyerap berbagai energi politik yang tertanam di tengah masyarakat dengan sintesa pemikiran yang bermuara pada sosialisme Islam yang nasionalis,†ujar Maruf.
Gus Atiq, pengagum Tjokro lainnya, menegaskan bahwa pelestarian pemikiran Tjokro merupakan sumbangsih untuk menjaga persatuan Indonesia. Pemikiran-pemikiran kritis Tjokro juga dapat dijadikan pedoman dalam menjawab tantangan perubahan zaman.
“Seperti juga Tjokro, kaum milenial perlu membuat gerakan nasional politik yang memperjuangkan kemanusiaan dan keadilan guna menggairahkan politik kita saat ini,†tegas aktivis Simpul Indonesia itu.
BERITA TERKAIT: