Gus Yahya Cemas, Ketika NU Dijadikan Batu Loncatan Politik Maka Forum-forum Musyawarah NU Hanya Jadi Ajang Kompetisi

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Kamis, 12 Maret 2020, 09:24 WIB
Gus Yahya Cemas, Ketika NU Dijadikan Batu Loncatan Politik Maka Forum-forum Musyawarah NU Hanya Jadi Ajang Kompetisi
Gus Yahya/Net
rmol news logo Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) khawatir ketika NU hanya dijadikan sebagai batu loncatan untuk meraih kedudukan-kedudukan tertentu dalam arena politik.

Sebagai ormas keagamaan Islam terbesar di Indonesia bahkan dunia, NU selalu menjadi magnet berbagai kalangan, termasuk untuk kepentingan memperebutkan kekuasaan politik.

Gus Yahya juga khawatir bila muncul pola calon presiden atau wakil presiden dari PBNU.

Di sela acara Peluncuran Buku PBNU Perjuangan Besar Nahdlatul Ulama di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Rabu (11/3), Gus Yahya mengungkapkan kekhawatirannya.

”Terus terang itu saya sangat khawatir sekali. Kenapa? Karena kemudian orang berkompetisi untuk dapat meraih kepemimpinan di dalam NU ini sebagai batu loncatan untuk bertarung untuk mencapai kedudukan-kedudukan politik. Ini menurut saya berbahaya," ujarnya.

Sebelumnya, tokoh NU yang bertarung dalam bursa pilpres adalah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang sebelumnya pernah menjadi Ketua Umum PBNU terpilih sebagai presiden, dan KH Ma'ruf Amin yang sebelumnya menjadi Rais Aam PBNU sekarang menduduki posisi wakil presiden. Sementara, mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi juga pernah maju sebagai cawapres bergandengan dengan Megawati Soekarnoputri, namun gagal.

Ketika NU dijadikan batu loncatan politik maka forum-forum musyawarah NU menjadi ajang kompetisi politik dari berbagai macam kekuatan, mulai dari tingkat bawah hingga pusat.

"Itu kekhawatiran saya sekarang. Bapak-Ibu bisa membayangkan betapa bahayanya," ujarnya.

Ia pun berharap PBNU bisa berfungsi seperti kabinet, PWNU seperti pemerintah provinsi, dan PCNU seperti pemerintahan kabupaten/kota yang memiliki agenda dan target capaian secara nasional melalui kegiatan dari bawah.

Dengan cara itu, menurutnya, NU akan kembali fungsional nyata.

"NU kembali sebagai organisasi, bukan hanya simbol-simbul untuk menggalang kekuatan supaya NU tidak menjadi batu loncatan politik," tegas Gus Yahya. rmol news logo article

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA