Gus Yahya Puji Kiai Imam Jazuli Siapkan Transformasi Pesantren di Era Disrupsi

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/diki-trianto-1'>DIKI TRIANTO</a>
LAPORAN: DIKI TRIANTO
  • Minggu, 07 Juni 2026, 23:02 WIB
Gus Yahya Puji Kiai Imam Jazuli Siapkan Transformasi Pesantren di Era Disrupsi
Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, saat membuka Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia Angkatan ke-3 di Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon. (Foto: RMOLJatim)
rmol news logo Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli. Kiai Imam dinilai progresif lantaran menginisiasi Workshop 5.000 Pengasuh Pesantren Se-Indonesia demi memperkuat kesiapan pesantren di era disrupsi.

Apresiasi tersebut dilontarkan Gus Yahya saat membuka Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia Angkatan ke-3 di Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu kemarin, 6 Juni 2026.

Di hadapan sekitar 150 pengasuh pesantren se-Jawa Barat, Gus Yahya mewanti-wanti agar pesantren gesit merespons perubahan zaman tanpa menanggalkan jati dirinya sebagai pusat benteng spiritual umat.

"Di tengah perubahan saat ini, para kiai harus tetap menghidupkan quwwah ruhaniyah (kekuatan spiritual) pesantren sebagai pilar untuk melahirkan kader-kader yang menjadi kekuatan peradaban," tegas Gus Yahya.

Gus Yahya mengingatkan, para ulama terdahulu telah mewariskan nilai-nilai luhur yang menjadikan pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan biasa, melainkan tempat penyucian jiwa sekaligus pusat ri'ayatul ummah (penjagaan terhadap umat).

Disrupsi Tak Bisa Diabaikan, Pesantren Harus Adaptif

Pada kesempatan yang sama, KH Imam Jazuli membeberkan bahwa workshop ini lahir dari kegelisahan mendalam melihat rontoknya sejumlah korporasi dan institusi besar dunia akibat gagal beradaptasi dengan perubahan zaman.

"Workshop ini hadir untuk berbagi strategi bagaimana merespons perubahan secara tepat dan proaktif," jelas Kiai Imam.

Wakil Ketua Umum PBNU era baru ini juga mematahkan anggapan keliru bahwa minat masyarakat terhadap pesantren mulai surut. Menurutnya, yang terjadi saat ini bukanlah penurunan, melainkan pergeseran atau migrasi preferensi wali santri.

"Terjadi migrasi dari pesantren model lama ke pesantren model baru yang lebih adaptif. Terbukti banyak pesantren yang usianya belum 10 tahun tetapi jumlah santrinya meledak. Ini menunjukkan pentingnya kemampuan merespons perubahan," cetusnya.

Abad Kedua NU: Buang Ego Kelompok

Lebih jauh, Kiai Imam Jazuli menggarisbawahi tantangan besar Nahdlatul Ulama (NU) di abad kedua. Menurutnya, tantangan zaman tidak akan bisa dijawab oleh individu atau kelompok secara parsial.

Ia mendesak adanya transformasi radikal dalam cara berpikir kader, dari paradigma "ana wal akhar" (aku dan mereka) menuju semangat "nahnu" (kita). Mentalitas faksi dan ego kelompok dinilai hanya akan menggembosi potensi raksasa yang dimiliki NU.

"Menghadapi disrupsi teknologi, tantangan ekonomi umat, dan perubahan sosial yang sangat cepat, kekuatan NU justru terletak pada kemampuan mengonsolidasikan seluruh potensi yang dimiliki," tutur kiai yang juga dikenal sebagai pengusaha bersahaja ini.

Bagi Kiai Imam, filosofi "nahnu" adalah mesin penggerak profesionalisme modern yang bersanding dengan spirit khidmah jam’iyyah. Ulama, akademisi, birokrat, hingga aktivis akar rumput harus melebur menjadi satu kekuatan utuh.

"Kita harus menjadi super team yang solid. Kelemahan satu kader ditutupi oleh kelebihan kader lainnya. Tidak ada lagi ruang untuk berjalan sendiri-sendiri atau saling meniadakan," serunya.

Digitalisasi Potensi dan Kemandirian Ekonomi

Kiai Imam menilai, modal SDM NU saat ini sudah sangat luar biasa dan tersebar di berbagai sektor strategis nasional maupun internasional. Langkah berikutnya tinggal melakukan pemetaan talenta dan membangun ekosistem kerja yang sinergis.

Di era digital, transformasi ini wajib didukung oleh integrasi data dan digitalisasi potensi kader guna memangkas ego sektoral antarlembaga di lingkungan NU.

Selain tata kelola, semangat kolektif ini juga harus diarahkan pada kemandirian ekonomi. Jaringan pesantren dan modal warga NU harus disinergikan menjadi kekuatan finansial penopang dakwah.

"Perbedaan pandangan di internal NU harus dipandang sebagai khazanah intelektual yang memperkaya pilihan strategi organisasi, bukan ancaman perpecahan. Dengan semangat tabayyun dan keterbukaan, NU akan semakin kuat menghadapi tantangan zaman," tutup Kiai Imam. rmol news logo article
EDITOR: DIKI TRIANTO

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA