Alih-alih terlena dengan keterpurukan, pemerintah justru harus memanfaatkan kondisi ini untuk memperkuat pasar dalam negeri.
"Saya kira virus Coroina akan cukup lama mempengaruhi perekonomian nasional kita. Tapi kita memiliki peluang karena pasar dalam negeri jadi kosong," ujar Ketua Komisi VI DPR, Faisol Reza saat diskusi bertema 'Kesiapan Perdagangan Indonesia Menghadapi Wabah Virus Corona' di Kantor DPP PKB, Jalan Raden Saleh, Jakarta, Jumat (6/3).
Para pengusaha nasional harus bisa melihat kesempatan langka ini untuk bisa memegang pasar dalam negeri dengan lebih serius sehingga bisa mengurangi ketergantungan pada impor. Hal itu akan makin baik bila didukung langkah-langkah konkret yang dilakukan pemerintah, terutama untuk melakukan dukungan terhadap industri dalam negeri.
Sebab menurut Faisol Reza, hingga kini belum ada langkah-langkah yang cukup kongkret pemerintah untuk mengambil penindakan, khususnya terkait perdagangan di sektor impor maupun ekspor di tengah wabah Covid-19 ini.
"Kemarin Pak Jokowi menyebut bukan hanya suplai yang kena,
demand dan produksi juga kena. Mungkin tekstil dalam beberapa bulan terakhir itu termasuk yang dikeluhkan," ujarnya politisi PKB ini.
Di bidang tekstil, jelasnya, setidaknya sembilan perusahaan gulung tikar di tahun 2019 karena masuknya tekstil China yang menguasai di atas 70 % di pasar dalam negeri. Hal ini akan makin buruk lantaran kasus Corona membuat bahan baku tekstil terancam.
Menurutnya, saat ini bisa jadi momentum karena dengan berkurangnya impor maka berkurang juga suplai dari impor. "Nah kesempatan industri dalam negeri untuk mengisi pasar yang kurang produk-produk impor," urainya.
Di tempat yang sama, Menteri Perdagangan (Mendag), Agus Suparmanto mengakui bahwa dalam beberapa waktu belakangan terjadi perlambatan ekonomi di sejumlah sektor usaha. Hal ini terutama akibat adanya pembatasan pergerakan barang dari China.
Oleh karenanya, Mendag menyarankan para pengusaha mencari alternatif negara lain selain China untuk memenuhi kebutuhan kerja sama perdagangan.
"Pengusaha disarankan cari alternatif negara lain karena kita tidak bisa instan (memulihkan dampak ekonomi)," ujar Agus Suparmanto.
BERITA TERKAIT: