Haris berpendapat, bertemuan kedua tokoh politik itu merupakan simbol kembali bersatunya rakyat Indonesia pasca kontestasi pilpres yang berdampak kepada polarisasi masyarakat.
"Pertemuan itu mendorong masyarakat bawah untuk kembali berpelukan, berpegangan erat bahwa kita satu nusa dan satu bangsa," kata Haris kepada wartawan, Sabtu (13/7).
Tidak hanya soal pertemuan, Haris juga mengaku bangga dengan para pejabat negara yang menemani Jokowi untuk bertemu Prabowo, seperi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan yang menjadi inisiator pertemuan, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung.
"Mereka (yang mendampingi) tidak hanya berpikir menjaga situasi dan keamanan saat kompetisi (pilpres) saja, melainkan juga mereka tetap berpikir bagaimana menenangkan seluruh hati rakyat Indonesia," ucapnya.
"Saya apresiasi untuk kepala BIN, akhirnya pak Prabowo dan Jokowi bisa bertemu," tambah Haris menekankan.
Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengungkapkan dalam pertemuan Prabowo dengan Jokowi pasca pilpres itu, kapasitas Budi Gunawan sebagai kepala BIN. Namun, Pramono menenekankan, BG bekerja senyap di balik pertemuan Jokowi dan Prabowo di salah satu gerbong MRT itu.
"Pak Budi Gunawan, kepala BIN. Beliau bekerja tanpa ada suara," kata Pramono di Fx Sudirman, Jakarta.
Jokowi dan Prabowo bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus, Sabtu pagi sekitar pukul 10.00 WIB. Menjajal MRT, keduanya turun di Stasiun MRT Istora Senayan, dilanjutkan jumpa pers.
Selanjutnya, dua tokoh bangsa yang berkompetisi pada Pilpres 2019 berjalan sekitar 500 meter menuju Restoran Sate Khas Senayan, FX Sudirman, Lantai F1, Jalan Jenderal Sudirman untuk bersantap siang.
BERITA TERKAIT: