Hal itu diungkapkan Direktur Eksekutif Lembaga Emrus Corner, Emrus Sihombing kepaÂda Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurut Emrus, caleg teruÂtama dari partai baru mengalami kerugian besar dalam pemilu tahun ini. Pasalnya, banyak caleg tidak diketahui pemilihnya karenaaroma pilpres lebih kental dari pileg.
"Ramainya pilpres ketimbang pileg membuat caleg partai baru rugi besar karena kurang dikenal pemilih. Karena tak dikenal, mereka tak dipilih dan dicueki pemilih," kata Emrus.
Dengan kondisi ini, Emrus setuju adanya evaluasi Undang-undang Pemilu agar pileg tidak digelar bersamaan dengan pilpres. "Secara pribadi saya sangatsetuju supaya DPR nanti mengevaluasi pemilu serentak ini. Pasalnya, Pemilu 2019 lebih dominasi pilpres," ujarnya.
Pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH) ini menuturkan, ketika memilih capres, pemilih sudah taÂhu siapa akan dipilih. Sedangkan, pemilih tak satu pun mengenal caleg sehingga asal pilih saja.
"Saya bicara dengan salah satu pemilih bahwa mereka memilih caleg ngasal saja. Jadi bukan karena program, sosok apalagi visi misi caleg, tapi asal sudah memenuhi kewajiban unÂtuk memilih saja," ujarnya.
Jika memang pemilu serentak ini tetap ingin dilakukan, lanjut Emrus hendaknya diubah pola pemilihannya. "Baiknya dipiÂsahkan saja pileg tersendiri yakÂni pemilu DPR, DPRD provinsi, DPRD Kabupaten/Kota dan DPD. Sedangkan pilpres diserentakkan dengan pemilihan kepada daerah saja. Jadi pileg serentak dan pemilihan eksekutif serentak pula," jelasnya.
"Jika ini dilakukan, maka tidak ada kasus masyarakat tidak kenal wakil rakyatnya," tambah Emrus.
Meski demikian, Emrus berÂpendapat pemilu serentak tahun ini adalah produk legislasi sudah disepakati tentu dengan segala kekurangan dan kelebihan
"Legislasi kita menghasilkan Pemilu serentak 2019. Ibarat bayi kan tidak langsung bisa berdiri tegak dan semua harus melalui proses pembelajaran dulu," jelas Emrus.
Secara keseluruhan, Emrus memandang Pemilu 2019 sudah berjalan baik, sekalipun masih ditemukan DPT bermasalah, kotak suara kena hujan, kertassuara belum menyebar terutaÂma Papua. "Di beberapa negara juga ada kelemahan, tapi perlu diakui Pemilu 2019 berhasil dan berlangsung aman dan damai, tidak sebagaimana prediksi orang bahwa pemilu akan berÂjalan tidak aman," paparnya.
Kata Emrus, Pemilu menunÂjukkan kedewasaaan masyaraat Indonesia. "Walau beda pilihan tapi tetap bersahabat, berbaur, bersenda gurau, bercerita, saling lempar senyum dan bercanda," tutupnya.
Sebelumnya, Direktur Riset Charta Politika, Muslimin meÂnilai, para pemilih di Pemilu 2019 punya kecenderungan mengutamakan Pilpres, dan melupakan Pileg. Berdasarkan hasil survei lembaganya pada 19-25 Maret 2019, sebanyak 75,4 persen dari 2.000 responÂden diketahui lebih memilih untuk mencoblos kertas suara Pilpres terlebih dahulu saat berada di TPS.
Sisanya, 2,2 persen responden memilih untuk mencoblos kerÂtas suara DPD, lalu 1,4 persen memilih mencoblos surat suara DPR, dan sebanyak 1,1 persen mencoblos suara DPRD tingkat 1 dan tingkat 2. Dan 11,9 persen tidak menjawab.
"(Artinya) Euforia Pilpres menyedot masyarakat, sehingga hampir melupakan pileg. Kenyataannya publik merasakan geliat pilpres," sebutnya.
Dia juga mengungkapkan, pemilih untuk kontestasi pileg punya prilaku berbeda saat menÂcoblos. ebanyak 34,6 persen dari 2.000 responden diketahui lebih suka mencoblos nama caleg. Sementara, 31 persen puÂnya kecenderungan mencoblos gambar partai dan 22,1 persen responden mencoblos nama caÂleg dan gambar partai, serta 12,5 persen memilih tidak menjawab. Survei itu menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error +/-2,19 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
BERITA TERKAIT: