Kekhawatiran diuraikan langsung cucu pendiri NU Hasyim Asyari, KH Irfan Yusuf Hasyim saat bertemu dengan calon wakil presiden, Sandiaga Uno sebagaimana video yang beredar di media sosial. Diketahui pertemuan tersebut berlangsung di Tulungagung, Jawa Timur pada Senin (18/3).
Kata Gus Irfan, ada tiga kekhawatiran yang dirasakan NU jika Prabowo-Sandi menang. Pertama, ada kalangan NU merasa akan disingkirkan dan dihabisi saat pasangan nomor urut 02 itu terpilih.
“Kedua, kami khawatir, tahlil dan manaqib akan hilang. Kemudian, Pak Prabowo selama ini kan dekat dengan kelompok radikal, kami khawatir menteri agama kan diberikan ke kelompok seperti itu,†tuturnya yang bersama dengan kiai-kiai NU bertanya kepada Sandi.
Sandi kemudian meluruskan bahwa dirinya merupakan bagian dari keluarga besar NU. Dia bahkan menjadi salah satu pemegang kartu tanda anggota NU pertama di Jakarta .
“Mertua saya tokoh NU betawi, kami didik dengan ahlusunnah wal jamaah, terawih 23 rekaat dan subuh pakai qunut,†terang Sandi.
Untuk itu, dia meminta kiai-kiai NU untuk tidak khawatir akan disingkirkan. Bahkan Sandi berjanji akan membuat NU menjadi organisasi terbesar umat Islam yang mengawal Islam rahmatan lil.
“Kita rangkul NU dan akan menjadi mitra bangsa,
baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,†sambungnya.
Soal tahlil dan manaqib, Sandi memastikan tidak akan dilarang. Bahkan dia sebagai warga NU turut melakukan kedua hal tersebut.
“Ini patut diteruskan. Jadi jangan khawatir,†tegasnya.
Sementara menanggapi tudingan Prabowo-Sandi dekat dengan kelompok radikal, Sandi dengan tegas membantah. Menurutnya, Prabowo-Sandi telah komitmen pada Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika.
“Islam moderat yang akan jadi pegangan kita,†terangnya.
Namun demikian, dia menganggap kelompok radikal harus tetap diajak berbicara karena mereka juga bagian dari warga negara Indonesia.
“Tapi mereka juga harus komitmen pada kita, Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika, dan saling menghargai satu sama lain,†pungkasnya.
BERITA TERKAIT: