Panglima TNI: Semua Elemen Harus Bersinergi Jaga Kedaulatan Bangsa

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widian-vebriyanto-1'>WIDIAN VEBRIYANTO</a>
LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Sabtu, 26 Mei 2018, 00:19 WIB
Panglima TNI: Semua Elemen Harus Bersinergi Jaga Kedaulatan Bangsa
Foto: Net
rmol news logo TNI tidak bisa sendiri dalam menjaga kedaulatan negara dan memajukan bangsa. Butuh banyak elemen yang bersinergi agar semua itu terwujud.

Atas alasan tersebut, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menggelar silaturrahmi dengan 50 ulama se-Sumatera Utara di Kodam I Bukit Barisan, Sumatera Utara, Jumat (25/5).

Marsekal Hadi menjelaskan bahwa bulan Ramadhan merupakan momentum yang tepat dalam menjalin silaturahmi antara TNI dengan ulama dan masyarakat. Terutama dalam rangka menghadapi sejumlah ancaman teroris yang marak di negeri ini.

"Berbagai elemen bangsa harus menyadari bahwa tidak bisa berdiri sendiri dalam menjaga kedaulatan dan memajukan bangsa. Semua perlu bersinergi," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Majelis Dzikir Hubbul Wathon (PB MDHW), KH Musthofa Aqil Siradj yang turut hadir dalam pertemuan tersebut memberikan sambutan hangat. Kata dia, sinergitas antara TNI dan ulama sangat penting terjalin, khususnya dalam menghadapi tahun politik.

"Pilkada hingga pilpres insya Allah aman sentosa, jika TNI-Polri-Ulama sudah bersatu," kata Kiai Musthofa saat memberikan tausiyah di acara tersebut, sebagaimana keterangan tertulis yang diterima redaksi.

Senada dengan itu, Ketua Umum MDHW Sumut, Nispul Khoiri mengatakan bahwa pertemuan TNI, Polri, dan ulama merupakan peristiwa monumental. Sebab ketiga elemen itu bersatu demi bangsa dan negara.

"Ini tentu mendinginkan situasi politik di Sumut, apalagi pertemuan ini juga ada dzikirnya," katanya.

Secara terpisah, Sekjen PB MDHW Hery Heryanto Azumi menjelaskan bahwa pertemuan Panglima TNI, Polri, ulama dan masyarakat Sumut merupakan wujud nyata dari pertahanan semesta dan sangat positif bagi bangsa.

Hery menambahkan bahwa dalam menjaga kedaulatan NKRI, kesembangan antara soft power dan hard power perlu ditonjolkan. Dalam hal ini, TNI bertindak sebagai pemegang pendekatan hard power sementara ulama dilibatkan dalam soft power.

"Soft power dan hard power disatupadukan. Pelibatan ulama tentu bagian dari soft power itu," tutupnya. [ian]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA