Ada tiga cabang olahraga yang dipertandingkan, yakni bola voli, bulutangkis dan gobak sodor. Sebanyak 16 organisasi perempuan dari area Jawa Tengah dan Yogyakarta turut serta menurunkan delegasi dalam acara yang dibuka Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi itu.
Pengurus Pusat Komunitas Olahraga Tradisional Indonesia (KOTI) Choirul Umam memuji acara ini. Apalagi, dalam acara ini turut mempertandingkan cabang olahraga gobak sodor yang sudah hampir tak dikenali lagi saat ini.
Gobak sodor, sambungnya, sarat akan makna filosofis. Permainan ini mengisyaratkan kekuatan daya tahan atas tanah air Indonesia. Pemain harus sekuat tenaga mempertahankan rumahnya sehingga tidak ada lawan yang mampu masuk dan memperoleh poin karena merebutnya.
Tak hanya itu, permainan yang kerap juga disebut hadang ini mengajarkan nilai-nilai kerjasama, kekompakan, kebersamaan, dan komitmen.
"Permainan ini bukan hanya sehat fisik tetapi juga sehat batin. Karena di dalamnya sarat akan nilai yang jika kita paham sebenarnya itu adalah pondasi kokohnya suatu bangsa,†ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima, Rabu (8/5).
Umam menambahkan melalui event ini Fatayat NU telah berhasil mengubah persepsi masyarakat bahwa gobak sodor itu olahraga yang kampungan dan tidak bisa masuk event nasional.
Nyatanya, setelah resmi menjadi salah satu cabor, kini gobak sodor mulai banyak dikenal dan di pertandingkan lagi.
"POP Fatayat ini juga lagi dapat momen banget, pas kemarin Pak Jokowi main hadang di Istana Bogor dan sekarang dipertandingkan di pekan olahraga perempuan ini," imbuhnya.
[ian]
BERITA TERKAIT: