Untuk memahami kata-kata BK tidak boleh terburu-buru. Apalagi konteksnya bermodus ditujukan pada pejuang yang dianggap pemberontak oleh rezim. Maka, kata-kata BK di atas semakin jauh dari konteks.
Janganlah gagal berpikir. Ketahuilah apa yang disampaikan BK adalah sebuah acuan yang harus dipikirkan landasannya untuk bisa mencapai hingga tahap hidup damai dan bersaudara. Landasannya lah yang harus dipikirkan untuk mencapai hidup damai dan persaudaraan.
Terkadang dituntut sebuah proses seperti apa yang ditempuh Imam Husein di Karbala sebagai landasan untuk mencapai hidup ideal.
Ketenangan dan persaudaraan bukanlah barang murah untuk saat ini. Ada pihak-pihak tertentu yang ketenangan mereka didapatkan dari adu domba. Setidaknya mereka punya anggapan demikian, meski pada faktanya tidak ada sedikit pun ketenangan yang didapatkan. Hanya
semata-mata ketenangan ilusi.
Naif sekali bila pola pikir instan tetap dipertahankan, maka Imam Husein sa pun akan dibilang pemberontak.
Pola pikir instan itu hanya berpikir output tanpa dipikir landasan dan prosesnya. Itulah fakta sejarah yang terulang sehingga pembela kebenaran yang dijamin kekuatan langit pun harus dibilang pemberontak.
Padahal sangatlah jelas misi Imam Husein sa, yaitu ammar maaruf wa nahi munkar (memerintahkan kebajikan dan menolak kemungkaran).
Apakah kita mau mengulangi sejarah?
Konklusinya, hidup dalam kedamaian dan persaudaraan tak akan terwujud tanpa keadilan. Damai itu indah tapi keadilan jauh lebih indah.
[***]Alireza AlatasPembela ulama dan NKRI, aktivis Silaturahmi Anak Bangsa Nusantara (SILABNA).
BERITA TERKAIT: