Stop Politisasi Usulan Plt Gubernur Dari Polri

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ade-mulyana-1'>ADE MULYANA</a>
LAPORAN: ADE MULYANA
  • Rabu, 31 Januari 2018, 17:11 WIB
Stop Politisasi Usulan Plt Gubernur Dari Polri
Tjahjo Kumolo/Net
rmol news logo Usulan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengangkat pelaksana tugas (Plt) gubernur di Sumatera Utara dan Jawa Barat dari petinggi Polri terus disorot. Kali ini Direktur Eksekutif Jokowi Watch, Tigor Doris yang angkat suara.  

Tigor mengatakan, usulan yang dikeluarkan oleh Mendagri tersebut tidak perlu masuk ranah politik dan didramatisasi. Sebab tidak ada potensi kecurangan atau keberpihakan Plt gubernur dari perwira polri untuk memenangkan pasangan calon tertentu saat parhelatan pilkada.

"Tidak perlu dipolitisasi dan tidak akan nada potensi kecurangan yang bisa dilakukan. Polri itu netral, usul  ini murni untuk mengisi kekosongan jabatan dan melayani masyarakat," kata Tigor melalui pesan tertulisnya, Rabu (31/1).

Tigor menjelaskan, adanya dugaan Plt gubernur dari perwira Polri akan mendukung pasangan calon yang diusung partai pro pemerintah adalah salah, karena banyak juga calon kepala daerah yang diusung  parpol  diluar pemerintahan, namun berkoalisi  dengan parpol pemerintah seperti Sumatera Utara dan Jawa Barat.

"Plt gubernur dari perwira polri tidak mungkin bisa digunakan sebagai alat untuk membantu pemenangan pasangan kepala daerah yang diusung partai pemerintah. Sebab ada KPU, Bawaslu dan masyarakat yang mengawasi. Selain itu, ini era keterbukaan dengan adanya  medsos  akan sulit untuk melakukan kecurangan dalam Pilkada," jelas Tigor.

Terkait dengan munculnya dua nama jenderal kepolisian berpangkat inspektur jenderal  yang diusulkan Mendagri untuk mengisi kekosongan kursi gubernur di Jawa Barat dan Sumatera Utara yaitu Asisten Operasi Kapolri Irjen M Iriawan dan Kadiv Propam Polri Irjen Martuani Sormin, Tigor mengatakan, dua perwira tersebut berpengalaman dalam hal  keamanan dan ketertiban sehingga kehadiran mereka dibutuhkan untuk mengatasi wilayah yang dianggap dianggap kurang aman.

"Dua wilayah itu dianggap karena kurang aman sehingga yang cocok yaitu TNI dan Polri," ujar Tigor.

Terakhir Tigor menilai, kebijakan ini  memang dibutuhkan karena  pilkada serentak diikuti 17 provinsi, sedangkan Kemendagri hanya memiliki tujuh pejabat eselon satu  untuk menjabat Plt gubernur.

Artinya masih dibutuhkan sekitar 13 orang lagi untuk menjabat sebagai Plt. Oleh sebab itu, Kemendagri mengajak lembaga negara setingkat menteri untuk mengajukan calon pelaksana tugas.

"Usulan ini juga masih dalam proses dan belum ditetapkan oleh pemerintah, nanti kita lihat kedepannya," pungkas Tigor.[dem]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA